ANTARANEWS.ID
Sisi Lain

Cara Atasi Stres Sebagai Bagian Wajar Dalam Kehidupan Anda.

Bapak ini bukan orang stres, tapi orang yang sangat bersemangat.
ANTARANEWS.ID

ANTARANEWS.id — Calon legislatif stres, tentunya bagi yang tidak terpilih.  Mereka tak siap kalah. dan ogah menerima kenyataan pahit itu. Apalagi banyak yang sudah utang ke sana ke mari untuk membiayai kampanye yang tidak murah itu.

Ancaman stres begitu akut menghantui para caleg sehingga sejumlah rumah sakit, baik di Jakarta maupun di berbagai kota lainnya di Indonesia, menyiapkan bangsal tersendiri untuk menampung para pengidap stres pasca pemilu legislatif tersebut.

Agaknya Pemilu lalu menyisakan beberapa mantan caleg yang terpaksa dirumahsakitkan karena perilaku mereka sekonyong-kongong menjadi bizarre (aneh) ketika tahu mereka kalah.

Namun, stres bukan melulu milik para caleg gagal. Siapapun pasti pernah merasakan apa itu stres. Mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat.

Pekerjaan menumpuk, sehingga tak tertangani, juga penyebab stres. Juga atasan yang selalu menekan, bawahan yang tidak becus, dan kolega yang tidak saling mendukung. 

Hubungan dengan pasangan kurang baik penyebab stres terbesar. Diikuti hubungan dengan anak yang tidak lancar.

Apa Itu Stres?
Sederhananya, stres adalah perpaduan antara reaksi fisik dan psikologi secara bersamaan pada tubuh manusia. Biasanya, stres disebabkan Anda tidak punya cukup waktu ataupun fasilitas untuk menyelesaikan suatu tugas. Padahal Anda tahu atau sadar tugas (masalah) itu harus diselesaikan (diatasi).

Efek samping emosional ini (tahu atau sadar) yang lantas menjadi pemicu Anda menunjukkan gejala-gejala stres. Termasuk kerap marah-marah, tidak bisa berpikir runtun, acap kehilangan fokus, tekanan darah naik, dan sebagainya.

Indikasi lain dari stres adalah ketika Anda atau siapapun menghabiskan waktu yang jauh lebih banyak dibanding orang lain di tempat kerja.

Sedemikian rupa sehingga kehidupan keluarga, sosial, dan pribadi menjadi terganggu. Padahal keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan kerja sangat penting; tak kecuali agar tingkat stres Anda berada di tahap yang tolerable and manageable (bisa ditoleransi dan dikelola).

Boleh jadi Anda menerima stres sebagai bagian wajar dalam kehidupan Anda. Mungkin karena Anda berpendapat, Anda bekerja keras untuk menyediakan kehidupan yang layak bagi keluarga Anda.

Sayangnya, anak-anak Anda tidak bisa melihat perbedaan mengapa ayah mereka jarang sekali bercengkerama dengan mereka: karena kerja sang ayah sangat keras atau karena ayah memang lebih senang berada di luar rumah (ketimbang berkumpul sama keluarga).

Begitu juga pasangan hidup, boleh jadi tidak menyimak niat kerja keras Anda itu justru (maksudnya) untuk kesejahteraan bersama.

Kiat Mengatasi
Mari mulai dari yang paling kritikal: keluarga. Jika stres Anda itu sampai mempengaruhi keharmonisan dalam keluarga, baik dengan pasangan Anda ataupun anak-anak, segeralah cari aktivitas yang bisa menyatukan seluruh keluarga.

Yang paling sederhana adalah coba ajak satu keluarga makan-makan. Cari tempat yang santai sehingga Anda dan seluruh isi keluarga bisa berbincang dengan bebas. Lakukan berkala dan lanjutkan dengan kegiatan sejenis lainnya.

Keluarkan (kanalisasi) beban dan uneg-uneg Anda. Itu bisa dilakukan dengan konsultasi (“curhat”) ke orang atau teman terpercaya. Bisa juga dengan konsultan atau psikoterapis; artinya kepada pihak yang secara professional dibekali kompetensi untuk mendengarkan Anda.

Dan membantu mencari jalan keluar. Kerapkali setelah beban pikirkan dicurahkan ke luar, ke pihak kompeten, setengah beban seketika terasa hilang. Lega rasanya.

Kalau Anda enggan mengungkap isi hati kepada orang lain, bisa juga kanalisasi itu lewat cara lain. Misalnya dengan menulis di buku harian. Atau, dalam beberapa terapi tertentu, pasien diminta untuk membuat catatan rinci tentang gejolak emosi yang dialaminya dari hari ke hari.

Dengan menulis dinamika emosi itu, Anda akan dapat lebih memahami apa yang terjadi dalam diri. Jadi ada jarak sekaligu obyektivitas dalam Anda menilai diri.

Tatkala mengalami serangan stres langkah Anda selanjutnya adalah: istirahat sejenak. Sebab, stres membuat Anda tidak bisa berpikir jernih atau lurus. Istirahat sekitar 5-15 menit bisa menyegarkan kembali pikiran Anda.

Yang tadinya kalut kini bisa mengalir lagi. Ibarat handset yang sempat “hang”, setelah di “re-set” maka kerjanya bisa kembali normal. Saat istirahat lakukan tarik nafas dalam-dalam berkali-kali. Menyegarkan.

Rajin berolahraga. Olahraga terbukti dapat mengurangi stres. Olahraga mengeluarkan hormone-hormon yang diperlukan agar terjadi keseimbangan dalam metabolisme tubuh.

Keseimbangan ini berpengaruh pada kondisi mental dan emosional seseorang. Olahraga (fisik) ternyata dapat menyegarkan mental state.

Ada semboyan “Mens sana in corpore sano” (A sound mind in a healthy body – dalam tubuh sehat terdapat pikiran sehat).

Musik tenang. Bila memiliki perangkat macam iPod, gunakanlah semaksimal mungkin. Dengan alat ini musik bisa didengarkan kapan saja, di mana saja, tanpa mengganggu kerja Anda.

Pilihlah musik yang menanangkan hati dan pikiran Anda. Musik mana yang  cocok dengan Anda memang bisa macam-macam. Untuk meraih ketenangan hati banyak  orang berpendapat musik yang tepat adalah dari aliran klasik, religius, atau smooth jazz.

Pilihan di tangan (atau hati) Anda. Yang penting tenang, santai, dan tidak stres. 

 

ANTARANEWS.ID
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »