ANTARANEWS.ID
Sisi Lain

Akan Ada Artis Besar di Java Jazz pada 1,2,3 Maret 2019. Siapa artis itu?

Dewi Gontha bersama CEO majalah eksekutif dan Pemred majalah MATRA, yang termasuk punya sejarah di Java Jazz sejak awal.
109Views

ANTARANEWS.id — “Kami tidak bisa datang sejauh ini tanpa ide gila ayahku dan tim kerja keras dan mitra yang selalu mendukung festival sejak kick off pada tahun 2005,” ujar Dewi Gontha tentang Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF).

Ini merupakan festival musik jazz terbesar yang diselenggarakan setiap tahun.

Java Jazz diselenggarakan pada awal bulan Maret sejak tahun 2005 di Jakarta, Indonesia.

Penyelenggara Java jazz Festival, adalah Java Festival Production. Mendobrak kebekuan dunia hiburan saat itu, tatkala Indonesia baru saja terkena musibah tsunami dan Bom Bali 2.

Konser musik internasional ini digelar tanpa memikirkan profit, didukung musisi jazz “alumnus Jamz Kafe” dan jurnalis dengan idealisme tinggi, yang bertekat untuk membangunkan situasi Indonesia yang sedang dilanda “ketakutan”.

Java jazz dikemas sebagai ajang seru-seruan, kumpul-kumpul dan menawarkan sesuatu yang lain. Branding tentang Indonesia di mata dunia, bahwa Indonesia negara yang aman dan nyaman, bahkan dikunjungi musisi kelas dunia.

Namanya boleh Festival jazz. Padahal, isinya sebenarnya tak hanya menyajikan musik jazz. Kita seperti masuk di sebuah kebun binatang yang berisi ragam binatang, tapi ini festival musik yang berisi ragam musisi, dengan ragam genre dan jenis musik.

Pengunjung masuk dengan harga terjangkau, boleh menikmati festival musik, sembari kongkow, jalan-jalan dan kita bisa memilih panggung yang disukai untuk menonton musisi beken. Ada 16 panggung disajikan.

Memang, saat awal Java Jazz digagas, tak banyak artis-artis dunia berkenan datang untuk mengisi acara Java Jazz.

Peter Gontha, terus mencari siapa artis dunia yang mau dan bisa menjadi superstar dalam acaranya itu. Akhirnya, ia meminta James Brown. Musikus Amerika itu pun menyanggupinya.

Dari situ, Java Jazz berjalan sukses dan berlangsung setiap tahunnya, menghadirkan konsep menarik, dari tahun ke tahun.

Even kelas dunia ini menyajikan hampir ratusan musisi kelas dunia. Kala itu, Peter juga tidak sendirian. Dia dibantu oleh putrinya, Dewi Alice Lydia Gontha atau biasa dikenal Dewi Gontha yang kala itu menjabat sebagai Production and Marketing Director.

Di tahun ke 11, PFG menyerahkan tongkat komando ke Dewi Gontha. Dia sudah menjadi Direktur Utama PT. Java Festival Production, menggantikan posisi sang ayah.

Sampai di titik festival ke-12, Dewi mengatakan kepercayaan yang diberikan sang ayah padanya masih dirasa berat, bahkan menjadi beban yang mau tidak mau harus dijalani.

Meski demikian, Dewi tetap senang menjalankan pekerjaannya. Itu karena musik jazz sudah tak asing di telinganya. Sejak kecil saat Natal tiba, keluarga besar Gontha selama tiga pekan berlibur ke luar negeri dan mereka menyaksikan festival musik, salah satunya North Sea Jazz Festival.

Tak terasa, kini sudah menginjak usia ke 15 tahun. Pesta musik jazz nomor satu di tanah air, Java Jazz Festival mendatangkan ratusan musisi mancanegara dan musisi Indonesia. Menarik dan seru, karena selalu menghadirkan pertunjukan khusus.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2019 mendatang, Java Festival Production akan kembali mengadakan kegiatan pra acara, yaitu Java Jazz on the Move yang akan diadakan mulai dari bulan Januari 2019 di sekitar Jakarta dan Tangerang.

baca juga: PFG

 

adminbagus
the authoradminbagus

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas