Nasional

AMDI Susun White List Media Digital Terpercaya

Views

ANTARANEWS.id – Forum Pimpinan Media Digital Indonesia (FPMDI) mendukung dengan serius tumbuhnya media profesional.

Bersama Asosiasi Media Digital Indonesia melakukan “white list” media digital lewat gerakan menulis baik serta benar, bukan hoax.

“Kami mengedukasi masyarakat, agar bisa membedakan mana pers yang sebenarnya dan yang tidak. Nara sumber boleh menolak diwawancara atau membuka informasi jika media yang mewawancarainya tak memiliki kompetensi jurnalistik,” ujar S.S Budi Rahardjo, Ketua Forum Pimpinan Media Digital Indonesia.

Uji kompetensi bagus, untuk profesionalisme jurnalis. Namun, jangan juga menjadi hambatan untuk bekerja dengan baik. Bagi yang jurnalis yang belum ikut kompetensi tapi serius menekuni jurnalistik, Asosiasi media digital Indonesia memberi pelatihan, sertifikasi mendapat ID Card atau sertifikat.

Budijojo menyebut, sebuah media disebut profesional, bukan abal-abal, antara lain bisa didekteksi dari dari sisi badan hukum, alamat kantor, jenis usaha, susunan redaksi, dan cara kerja. Secara bahasa, abal-abal artinya palsu, murahan, rendahan, tidak terpercaya, ilegal.

“Media abal-abal adalah media yang tidak resmi, tidak berbadan hukum, sehingga potensial menyajikan berita asal, sembarangan, serampangan, beritanya tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan cenderung mengabaikan standar dan etika jurnalistik,” ujar Jojo yang juga merupakan CEO majalah eksekutif dan merupakan Pemimpin Redaksi majalah MATRA.

Budi mengatakan, media profesional, terpercaya, bukan media abal-abal. “Paling tidak, kalaupun belum/tidak berbadan hukum, media tersebut mencantumkan nama-nama tim redaksi (wartawan) dan alamat kantornya,” jelasnya. Untuk itu, Asosiasi Media Digital punya “white list” media yang sudah tersertifikasi sesuai arahan Dewan Pers.

Asosiasi juga punya data, perusahaan media mana yang sudah bisa mensejahterakan organiknya. Maka, pesannya kepada seluruh masyarakat, jika nama pengelola situsnya “anonimous” alias tidak jelas nama dan alamatnya, memang tak usah dijadikan rujukan informasi.

“Biasanya situs abal-abal hanya mengejar trafik dengan posting berita sensasional,” ujar Budi menyebut contoh kata lebay bin alay, bahkan sering beda judul ama isinya!

Media abal-abal juga biasanya menggunakan judul-judul berita umpan klik (clickbait) yang melabrak standar penulisan karya jurnalistik, misalnya menggunakan kata “WOW”, “Terungkap”, “Miris”, “Ini Dia”, “Begini”, “Inilah”. Kawanan ini kerap memeras dan lekat dengan praktek korupsi. “Kami tak ingin dunia jurnalistik dinodai seperti ini, oleh oknum,” ujar Jojo, yang terus berkordinasi dengan Dewan Pers serta Kominfo.

 

 

 

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »