Inspirasi

Antara Harga Diri & Harakiri

Views

Oleh
Arvan Pradiansyah

Direktur Pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) &
Pengarang Buku Life is Beautiful

***

Seorang pria yang bekerja sebagai konsultan mengalami cobaan cukup berat: ibunya mengidap kanker stadium akut. Walaupun demikian, pria ini tetap bekerja keras sepanjang hari. Ia mengendarai mobil sejauh 60 km untuk pulang ke rumah dan menemani ibunya setiap malam.

Tak ingin mengganggu direktur di perusahaannya, dia hanya menceritakan hal itu ke kepala divisi SDM. Dengan catatan, dan mewanti-wanti kepala SDM itu agar merahasiakan ceritanya.

Tak disangka, beberapa hari kemudian, sang direktur memanggil pria ini ke ruangannya. Awalnya, ia mengira sang direktur ingin membicarakan salah satu klien yang sedang ia tangani. Ketika telah berada di ruangannya, sang direktur menatap matanya dan berkata, “Saya dengar ibumu sedang sakit parah.”

Lelaki ini betul-betul terkejut dan langsung menangis. Si bos tetap memandangnya dan menunggu sampai tangisnya mereda. Lalu dengan lembut, ia mengucapkan sebuah kalimat yang tak pernah dilupakan lelaki tersebut, “Apa pun yang kamu perlukan….”

Apa yang terbayang di kepala Anda membaca cerita di atas? Anda tentu juga bisa menduga apa yang dirasakan oleh lelaki tersebut dan bagaimana bentuk hubungan yang akan tercipta antara si lelaki dengan bosnya.

Situasi semacam inilah yang perlu senantiasa kita ciptakan di tempat kerja. Tempat kerja, memang, acap kali menjadi tempat “dingin”, di mana masalah-masalah pribadi menjadi sesuatu yang tak layak dibicarakan.

Padahal, masalah ini sering sangat menyita energi kita. Secara fisik, kita berada di kantor, tetapi tidak secara mental. Pikiran kita ada di mana-mana.

Kita semua sejatinya adalah pemimpin, dan sebagai pemimpin, tugas kita yang utama hanya satu: memberdayakan, bukannya memperdayakan orang lain. Konsep ini disebut empowerment.

Asumsi dasarnya sederhana, setiap orang pada dasarnya memiliki power. Tetapi, karena satu dan lain hal, power ini tidak dapat dikeluarkan atau direalisasikan dalam bentuk kinerja.

Seorang pemimpin yang efektif tahu pasti akan hal ini. Ia akan selalu mendahulukan orang di atas tugasnya. Ia juga tidak akan pernah menganggap remeh masalah-masalah individu. Ia sangat paham bahwa masalah individu akan selalu berdampak pada kinerjanya.

Pemimpin yang baik tidak hanya membeli tangan seseorang, tetapi juga membeli pikiran dan hatinya. Pikiran adalah tempat kreativitas, tempat kecerdasan dan akalnya berada. Sementara, hati seseorang adalah tempat antusiasme dan loyalitasnya.

Kerap kali kita tidak dapat membedakan antara kepatuhan (compliance) dengan komitmen. Orang yang patuh hanya bekerja dengan tangan dan kakinya, sedangkan orang yang memiliki komitmen bekerja dengan pikiran dan hatinya.

Anda perlu ingat bahwa orang hanya akan bekerja dengan baik kalau mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Orang akan merasa nyaman kalau mereka dihargai, didengarkan, diakui, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini akan menciptakan energi yang luar biasa yang akan disalurkan dalam bentuk kinerja.

Langkah pertama untuk menciptakan empowerment adalah dengan banyak memberikan pujian, mengakui, dan mendengarkan orang lain.

Jangan pernah sekalipun menjatuhkan harga diri orang karena harga diri adalah segala-galanya bagi setiap orang. Bahkan, bukankah orang Jepang bisa melakukan harakiri jika harga dirinya jatuh?

baca juga: majalah MATRA cetak edisi terbaru (klik ini)

* * *

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »