ANTARANEWS.ID
Sisi Lain

Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) & Penghargaan Socialpreneur Digital Award

ANTARANEWS.ID

Pengurus Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) melaporkan “gerakan”nya ke Menteri Sosial, Idrus Marham dalam konteks berbuat ke masyarakat dalam konteks yang ada, khususnya di media sosial dan media tradisional dari media cetak hingga online.

Bahwa para anggota Asosiasi Media Digital Indonesia, merupakan socialpreneur juga. Ragam kegiatan organisasi AMDI yang ujungnya seperti filantropy, terdiri dari sosok-sosok yang punya jiwa social, menebarkan inspirasi. Dengan karyanya, dengan keteladanannya bisa memberi akselerasi dan percepatan.

AMDI memberi presentasi ke Departemen Sosial, bahwa sesungguhnya produksi Hoax yang banyak di tahun politik ini, hanya bisa “dilawan” dengan sosok-sosok atau siapapun yang memberi layanan, pemberdayaan dan literasi di dunia digital dengan baik.

“Kami menjalankan usaha tidak semata-mata mementingkan keuntungan pribadinya, namun juga memikirkan lingkungan sekitar dan komunitas. Agar bersama-sama dalam mencapai kesuksesan. Dengan kata lain, menjadi pengusaha atau pemimpin media digital, sekaligus menjadi sosok perubahan bagi lingkungan di sekitarnya,” ujar S.S Budi Rahardjo, CEO majalah eksekutif yang juga Pemred Majalah MATRA.

Yang paling utama adalah, “Kami adalah sosok-sosok kreatif dan pandai mengolah ide, menjadi sebuah peluang yang dapat menguntungkan banyak orang.” Demikian Asri Hadi, Bendahara AMDI yang merupakan Pemred Indonews memaparkan.

Kuncinya di zaman now adalah bagaimana, kita dapat memanfaatkan kemampuan sosial, berinteraksi dalam komunitas, dan kemampuan-kemampuan dasar lainnya. “Kami juga kerap memberi pelatihan ke beberapa komunitas, agar bisa membedakan berita hoax dan bukan,” ujar Edi Winarto, Sekjen AMDI yang juga Pemred Editor.id

“Anggota AMDI, terdiri dari para owner serta pimpinan media massa,  jurnalis yang kini menjadi pemimpin di medianya serta memiliki kompetensi secara profesi dan memahami kode etik jurnalistik, memang memiliki hati sebagai seorang socialpreneur,” ujar Koeswondo, pemilik Telegraf, Ketua Divisi Pelatihan Asosiasi Media Digital.

“Sosial media sedang booming, sebagai bagian kemajuan teknologi, ada FB, intagram, line dan sebagainya. Tetapi edukasi dan dampaknya tidak didapat oleh banyak netizen,” ujar Ahmed Kurnia, yang juga merupakan coach dari densus digital.

“Kecepatan behavior, teknologi, infrastruktur kita tak merata sampai ke daerah, menjadikan kami terpanggil untuk masuk dalam  landscape digital,” ujar Andy, staf IT yang kerap melakukan pelatihan coding dan membuat website secara gratis ini.

Hal semacam itulah yang diperhatikan oleh para pengurus Asosiasi Media Digital, tak hanya membina para startup untuk eksis mendulang untung. Yang lebih penting lagi saat ini dalam konteks mengembangkan dan melindungi kehidupan pers di Indonesia dan bermanfaat untuk bangsa.

S.S Budi Rahardjo yang juga sebagai Ketua Forum Pimpinan Media Digital menegaskan, medsos (media digital) saat ini “hiruk pikuk” hanya bisa ditenangkan oleh sosok-sosok yang kompeten, memiliki kemampuan etika jurnalistik serta berintegritas. “Kami berbisnis bermodal hati, yang ingin berbagi dengan laba pasti,” papar pria yang kerap dipanggil Jojo ini berfilsafat.

AMDI saat ini sudah juga meriset, demikian banyak socialpreneur digital yang bisa diberi apresiasi. Tak hanya pengusaha kaki palsu, misalnya yang berhasil menciptakan kaki palsu dari bahan sederhana namun nyaman digunakan. Ternyata hasil karyanya diminati, karena harganya yang sangat terjangkau. Atau kepedulian seseorang yang menjual jasa bimbingan belajar dan kursus komputer. Cita-cita utamanya mengenalkan komputer dan internet di daerah dengan gratis.

Yang juga menjadi menjadi konsen organisasi AMDI di seluruh Indonesia, pengguna internet penggunanya banyak di pulau Pulau Jawa, tapi penetrasinya di Kalimantan lebih banyak. Di daerah penetrasinya tinggi serta tidak merata dalam edukasi dalam pemanfatan internet.

“Orang-orang semacam ini perlu dikasih Award nih,” ujar Idrus Marham, cepat tanggap dan responsif dalam acara silaturahmi di Gedung Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta.

Aktivis mesjid yang kemudian menjadi politikus dan saat ini menjadi menteri sangat senang bisa berinteraksi dengan orang-orang yang punya kepedulian, bukan saja menolong atau bergerak di medan bencana.

ANTARANEWS.ID
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »