ANTARANEWS.ID
Sisi Lain

Asosiasi Media Digital Indonesia Diajak Menjadi Bagian Siber Kreasi

ANTARANEWS.ID

“Prosesi” Rudiantara dan Niken Menjadi Bagian dari Asosiasi Media Digital Indonesia

 

“Jangan hanya mendukung dong, kami mengajak Asosiasi Media Digital Indonesia menjadi bagian dari program kami, Cyber Kreasi,” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo).

Hal ini ditegaskan sang menteri, saat menerima jajaran pengurus dari Forum Pimpinan Media Digital Indonesia (FPMDI) dan Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI), di ruang Rapat Mashuri, lantai 7 Gedung Kementerian Kominfo Jl. Medan Merdeka Barat No. 9 Jakarta Pusat.

Pemerintah mengajak AMDI untuk menepis adanya informasi dan pemberitaan hoax, cyberbullying dan online radicalism di media sosial maupun di media resmi.

“Intinya siber kreasi itu untuk mendekatkan kita agar tidak kebablasan dan memberikan informasi atau isu hoax yang berkembang di masyarakat,” kata Rudiantara, didampingi Niken Widiastuti, Direktur Jenderal IKP (Informasi dan Komunikasi Publik) Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Asosiasi Media Digital Indonesia kami ajak untuk menjadi bagian dari tim kami, yang kini telah berkomunikasi melalui media internet, daring dan lainnya,” kata Niken, yang bersyukur para anggota Asosiasi Media Digital Indonesia menyadari, setiap kali ada kontestasi politik, hoax atau berita bohong “menjejal” di mana-mana.

Mantan Direktur Utama RRI itu merasa Asosiasi Media Digital Indonesia mengaku, cocok dengan program AMDI yang sudah berjalan, dimana SDM dari organisasi itu sesuai kebutuhan masyarakat jaman now.

Niken mengatakan, sangat mengapresiasi AMDI yang para anggotanya merupakan para pemilik media mainstream, CEO dan Pemimpin Redaksi. Bahkan, juga para coach penulis buku digital termasuk  penggiat digital, yang sepakat menjaga informasi yang akurat dan jujur serta menjaga integritas komunikasi.

Dengan sosok-sosok yang kredibel dan berintergritas, Niken berharap lebih dan yakin lewat Asosiasi Media Digital Indonesia bisa disosialisasikan hal-hal baik dan menciptakan informasi positif. Karena, shifting teknologi memang membawa dampak, misalnya melakukan perubahan yang acak.

Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) seakan sudah mengantispasi. Yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholder approach). “Baik kuantitasnya serta terobosan-terobosan, agar masyarakat bisa mengikuti perkembangan teknologi dan tidak tersesat, serta bisa membantu  masyarakat untuk masuk ke digital caranya gimana,” tutur Niken.

“Kami sudah menjalankan Gerakan menulis baik, yang mengajak masyarakat untuk aktif menyebarkan konten positif,” ujar S.S Budi Rahardjo, Ketua AMDI dan Forum Pimpinan Media Digital Indonesia. Ia merasa senang jika AMDI bisa dilibatkan dalam Siber Kreasi. Sebab, hal ini sejalan dengan program AMDI selama ini.

Secara organisasi, anggotanya terdiri dari website yang paham reputasi. “Yang memiliki website integrasi dengan media cetak, termasuk media televisi digital, yang sudah mendapat public acceptance dan public support dan didukung penuh masyarakat,” ujar pria yang kerap dipanggil Jojo.

Dalam paparannya disebutkan AMDI,  sudah memiliki mekanisme untuk  meliterasi dan punya daftar “whitelist” terkait media massa berkaitan pemberitaan.

“Selain terdiri dari para owner serta pimpinan media massa, anggota AMDI adalah jurnalis yang kini menjadi pemimpin di medianya serta memiliki kompetensi secara profesi dan memahami kode etik jurnalistik,” ujar Asri Hadi, Pemred Indonews menegaskan.

“Kita bisa mendapat reputasi yang cepat, tapi perlu akal sehat yang baik dan lakukan dengan benar dan berkualitas, ” ujar Koeswondo, pemilik Telegraf, Divisi Pelatihan Asosiasi Media Digital.

Yang juga menjadi menjadi konsen AMDI, pengguna internet penggunanya banyak di pulau Pulau Jawa, tapi penetrasinya di Kalimantan lebih banyak. Di daerah penetrasinya tinggi serta tidak merata dalam edukasi dalam pemanfatan internet.

“Sosial media sedang booming, sebagai bagian kemajuan teknologi, ada FB, intagram, line dan sebagainya. Tetapi edukasi dan dampaknya tidak didapat oleh banyak netizen,” ujar Edi Winarto, Sekjen Asosiasi Media Digital yang juga pemilik Editor.id.

“Kecepatan behavior, teknologi, infrastruktur kita tak merata sampai ke daerah, menjadikan kami terpanggil untuk masuk dalam  landscape digital,” sambung Kushidarto, jurnalis senior yang kini menjadi youtubers. Pemilik Jangantulalit.com ini menyebut, era digital memungkinkan tumbuh digitalpreneur. “Yang menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Hal semacam itulah yang diperhatikan oleh Asosiasi Media Digital, khususnya membina para startup. Asosiasi Media Digital siap menjadi payung media yang baru dalam tahapan rintisan (start up) dalam konteks mengembangkan dan melindungi kehidupan pers di Indonesia.

Suharto dari Infoasia menjelaskan, Asosiasi Media Digital juga sudah memberi masukan ke Menteri, janganlah sampai Verifikasi Perusahaan Pers mengekang kerja jurnalis dan mematahkan roda organisasi digital yang sedang berkembang.

Apalagi, sempat ada rumor tersebar, ketentuan administrasi dan verifikasi aktual membatasi kerja para organik (wartawan) untuk meliput ke berapa instansi pemerintah, TNI atau Polri. Bahwa di luar media “terverifikasi” tidak boleh dilayani kalau meliput di lembaga pemerintah, termasuk TNI dan Polri.

White list media yang dibina dan menjadi jaminan. Asosiasi Media Digital sangat konsen dalam menyikapi apa-apa saja, di era digital ini yang berdampak langsung ke industri media massa, khususnya ke media digital serta melindungi anggotanya dan punya niat baik untuk terus mengedukasi masyarakat.

Untuk media media digital, Dimas Supriyanto, salah seorang wartawan senior yang demikian banyak follower-nya di medsos mengakui, media digital saat ini “hiruk pikuk” apalagi di tahun politik. Dan “hiruk pikuk” itu, hanya bisa ditenangkan oleh sosok-sosok yang kompeten, memiliki kemampuan etika jurnalistik serta berintegritas.

“Mereka yang lebih tahu kiblatnya,” ujar pemimpin online di Poskota ini. Dimas memaparkan lebih jauh dampak-dampak bagusnya medsos yang sudah diedukasi, apa yang harus diperhatikan, termasuk mengenai shifting-shifting teknologi baru. Termasuk,  menangkal konten negatif.

Dalam kesempatan itu, para pengurus AMDI juga menjelaskan ke Menteri dan Dirjen mengenai statistik website media massa, khususnya media digital. Termasuk pemetaan media cetak yang berkonvergensi ke digital dan terus menerbitkan edisi cetak. Termasuk memberi gambaran, bagaimana banyak anggota Asosiasi Media Digital yang berkantor di co-working space.

Di industri zaman now, tren terus berkembang. Dunia bisnis bergerak maju menuju konsep yang disebut dengan co-working space. Demam coworking space kini tengah melanda,  menjangkiti dunia bisnis, termasuk media digital (startup).

Para reporter, jurnalis tak harus ke kantor menulis berita. Demikian juga bisnis media digital, cukup menyewa coworking space yang kini bertebaran di Jakarta dan Bandung. Dimana banyak pensiunan jurnalis yang kini mengembangkan startup dan professional.

“Perlu disuport. Jangan verifikasi menghambat kerja mereka, apalagi jika usaha startupnya mempekerjakan dan membuka lowongan pekerjaan,” ujar Rudiantara menegaskan.

Hadir dalam kesempatan itu, wakil dari pecipta lagu dan pemusik yang aktif di medsos dan dunia digital Oet Eno, membawakan mars AMDI.

Hal ini menjadi bagian acara dari “prosesi” Rudiantara dan Niken diangkat menjadi bagian dari Asosiasi Media Digital Indonesia, karena memiliki website infopublik.id dan Info Publik.Org yang telah disinergikan dengan berbagai konten baik cetak maupun audio visual untuk menuju sebagai Humas pemerintah.


Delegasi AMDI bersama Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Niken Widyarini serta Direktur Informasi Publik Sembiring.

ANTARANEWS.ID
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »