ANTARANEWS.ID
Sisi Lain

Asosiasi Media Digital Indonesia: “RUU Penyiaran Masih Tarik Menarik.”

ANTARANEWS.ID

 

 

 

“Ternyata, ada sejumlah poin yang secara substansi masih belum menemukan titik temu,” ujar S.S Budi Rahardjo. Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia, dalam release-nya Selasa 17 Oktober 2017.

Pria yang juga memiliki Indonesia TV News Agency ini mengamati, hingga bulan Oktober 2017,  penyusunan RUU tak mulus.

Selaku Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI), Jojo memantau pembahasan harmonisasi Rancangan Undang Undang Penyiaran antara Badan Legislasi atau Baleg dengan Komisi I DPR RI.

“Para pemangku kepentingan atau stakeholder, belum semuanya dimintai pendapat. Sehingga, bisa saja UU itu berimplikasi monopoli baru,” ujar aktivis yang juga jurnalis ini.

Apakah itu monopoli yang dilakukan lembaga negara, atau yang dilakukan pelaku swasta, Asosiasi Media Digital juga sedang mengamati.

Termasuk, soal badan migrasi digital dari analog ke digital. Juga tentang ketentuan yang mengatur tentang pemanfaatan untuk bencana alam dan pendidikan. Isu lainnya soal investasi asing sebesar 20 persen.

“Yang juga menjadi pembahasan terus, mengenai kepemilikan TV. Apakah asing boleh lebih dua puluh persen, memiliki atau tidak boleh” ujar S.S Budi Rahardjo.

Termasuk, masih menurut Budi, soal single mux atau multipleksing. “Masih tarik menarik,” papar pria pemilik Super TV digital ini. Intinya, “Kita semua berharap UU ini menjadi aturan yang berkeadilan.”

 

ANTARANEWS.ID
Redaksi
the authorRedaksi

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Translate »