Rilis

Asri Hadi (Ketua FIS UI): “Itu Aksi Anak Muda Yang Mencari Panggung. Perlu eksistensi.”

Ngono Yo Ngono, Nanging Ojo Ngono,” ujar Asri Hadi mengutip filosofi Jawa. Sebagai orang Padang, ia kini tertarik dengan kalimat: ‘Ngono Yo Ngono Nanging Ojo Ngono. Dalam bahasa gaul saat ini, mungkin bisa diartikan, “Bebas berekspresi dan melakukan apapun tapi harus ada batasannya”.

Aksi seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang meniup peluit dan memberi kartu kuning bagi Presiden Jokowi menjadi viral di media social. Sebagai warga Negara, kita semua berhak punya aspirasi pribadi. Menjadi: “Begitu ya begitu, tetapi jangan begitu”.

Filsafat jawa ini, menurut pria alumnus Universitas Indonesia angkatan 78 ini mempunyai makna yang sangat dalam.

Asri Hadi mengatakan, kata tersebut bisa diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada siapapun untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya sendiri yang konotasi pada perbuatan atau tindakan yang menjurus pada pelanggaran norma atau etika.

Jadi, Asri Hadi menegaskan, segala sesuatu yang akan kita lakukan, tetap harus memikirkan dampak yang akan timbul kepada orang lain, ingat kita hidup sebagai makhluk sosial. Kalau kita ingin berbuat sesuka hati anda , semua itu tidak masalah, tetapi yang jadi masalah adalah apabila perbuatan anda itu berdampak negatif bagi orang lain.

Masing masing individu mempunyai kebebasan bertindak, berbicara, berkehendak dan sebagainya. Bahwa aksinya simbolis bagian dari rangkaian ‘penyambutan’ yang juga dilakukan di Stasiun Universitas Indonesia. “Tak etis,” ujar Asri yang sempat mendengar yang bersangkutan ‘binaan” orang Partai yang memang tak suka pemerintah.

Asri Hadi mengartikan, jika permainan sepak bola kartu kuning ini menjadi peringatan supaya lebih berhati-hati atau menjaga dirinya. “Aksi mahasiswa tersebut, tak mencirikan ekspresi anak muda yang kritis menghadapi masalah Negara, tapi terasa ada yang mengatur,” ujar Asri Hadi.

Pemimpin redaksi Indonews yang juga Bendahara Asosiasi Media Digital Indonesia ini, akan menginvestigasi, jika perlu, terhadap pihak ketiga yang katanya mengatur dan menunggangi aksi kartu kuning itu. “Itu Aksi anak muda yang mencari panggung, perlu eksistensi, memang cocok jika Presiden mengajaknya melihat situasi dan realitas lapangan di pedalaman Asmat,” ujarnya.

Bukanya apa-apa, ia melihat aksi ini bentuk kegalauan dan ganjil. “Kenakalan yang kelewat batas,” ujarnya tentang mahasiswa itu. Pengacungan ‘kartu kuning’ dengan tangan kanan, sebenarnya merupakan buku paduan yang kebetulan berwarna kuning. “Esensinya setuju, tapi caranya tidak tepat,” ujar Asri Hadi.

Adapun tiga tuntutannya, terkait gizi buruk di Papua untuk segera diselesaikan pemerintah karena lokasi kejadian luar biasa campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, merupakan bagian dari Indonesia. Kemudian, mengenai protesnya jangan sampai kita kembali ke zaman orde baru. Dimana Polisi aktif pegang jabatan gubernur karena tidak sesuai dengan UU Pilkada dan UU Kepolisian.

Tuntutan ketiga, yaitu persoalan Permenristekdiktir tentang Organisasi Mahasiswa (Ormawa) karena dapat mengancam kebebasan berorganisasi dan gerakan kritis mahasiswa.

Yang tidak elok adalah, berbuat kepada Presiden Republik Indonesia yang diundang sebagai tamu ke UI sudah selayaknya dihormati. Momen dialog mahasiswa dan Presiden juga sebenarnya sudah disiapkan.

“Perlu diingat, bahwasannya setiap kebebasan haruslah ada batasan batasan yang mengikutinya untuk dijadikan rambu rambu agar kebebasan tersebut tidak kebablasan atau melampaui batas baik norma ataupun aturan yang kita anut,” papar Ketua Intelektual Studi Untuk Indonesia (FIS UI) ini menegaskan.

“Tak etis,” ujar Asri Hadi yang sempat mendengar yang bersangkutan ‘binaan” orang Partai yang memang tak suka pemerintah.

 

baca juga: klik aja

 

ANTARANEWS.ID
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »