ANTARANEWS.ID
Wawancara Ekslusif

Buntut Bocornya Pembicaraan Rini Suwandi & Dirut PLN

majalah eksekutif (print) cetak edisi Mei 2018
ANTARANEWS.ID

Majalah eksekutif berhasil mewawancara nama yang masuk dalam perbincangan itu. Apa dan bagaimananya, memang perlu disimak di majalah eksekutif edidi Mei 2018. Jika kehabisan edisi cetaknya, klik saja: https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/eksekutif

Ari Soemarno menjadi momok yang sangat diperhitungkan oleh trader-trader minyak dan gas. Hampir separuh hidupnya mengabdi di Pertamina. Wajar jika ia tahu betul apa yang menjadi “jeroan” perusahaan minyak plat merah itu. Pria ini telah mengabdi kurang lebih 28 tahun di Pertamina. Tak sembarang orang bisa wawancara terbuka dengannya saat ini.

Dunia minyak dan gas memang menjadi dunianya. Dia memulai karir di Badak LNG plant di Bontang, Kalimantan Timur, pada 1978. Ari Soemarno menghabiskan 16 tahun di Bontang, setelah itu baru ke pusat Pertamina di Jakarta pada 1994.

Pria yang masih tampak enerjik dan kini aktif sebagai konsultan minyak dan gas ini membeberkan banyak hal. Berikut petikan wawancaranya dengan S.S Budi Rahardjo, Abdul Kholis dan Yul Adriansyah untuk majalah eksekutif. Wawancara ekslusifnya di majalah eksekutif. Ini hanya petikannya, singkat.

Apa kabar Pak Ari?
Baik, sehat seperti yang Anda lihat saat ini.

Tampak awet muda, apa resepnya?
Ha-ha-ha. Saya ini bukan awet muda, tapi awet tua. Umur saya sudah 67 tahun. Main golf juga sudah berkurang.

Kalau boleh cerita tentang perjalanan karir Anda, cukup banyak keluarga Anda yang jadi pejabat penting di negeri ini. Anda melihat ini sudah jadi ‘garis tangan’?
Begini. Kami ini tiga bersaudara, mempunyai prinsip yang sama. Kalau diantara kami ada yang jadi pejabat (menteri atau lainnya) masing-masing tidak boleh ikut campur. Jangan dekat-dekati kami, apalagi yang ada kaitannya soal bisnis.

Waktu adik saya (Rini Sumarno) jadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan pun, saya tidak boleh dekat. Kami maunya profesional. Waktu saya jadi Direktur Utama Pertamina pun, saya katakan ke semua saudara-saudara saya “jangan dekat-dekat sama saya”.

Termasuk, kalau ada masalah yang Anda atau adik Anda alami, masing-masing tidak boleh ikut campur?
Betul. Pada waktu adik saya jadi Menperindag, dan saya masih menjabat Dirut Pertamina, saya ada masalah di Pertamina. Saya di-non job-kan. Lalu adik saya tanya ke saya, kenapa bisa? Tapi saya jawab, “Sudahlah kamu jangan ikut campur dalam urusan ini, biarkan ini urusan saya dan biarkan saya selesaikan sendiri.”

Bahkan waktu itu (almarhum) Taufik Kiemas (suami Megawati Soekarno Putri) sempat menanyakan ke saya, “ada apa?” Tetapi saya jawab, “Sudahlah, Mas. Saya enggak masalah di-non job-kan. Saya juga enggak nyesal. Ini hanya urusan soal profesional saja. Toh, saya masih dikasih tugas di ESDM waktu itu. Tapi sekarang, isunya macam-macam.

Sampai sekarang Anda masih mengikuti perkembangan minyak dan gas di dalam negeri?
Ya, sampai sekarang saya masih terus mengikuti perkembangnya. Karena itu memang dunia saya. Di lapangan gas mana yang saya enggak ikuti perkembangannya? Saya ikuti terus, dari mulai Arun, Tangguh, Bontang, Natuna, sampai masalah Blok Masela.

Waktu itu memang soal Blok Masela sempat di SKK Migas, dan saya di Pertamina, jadi Pertamina punya kepentingan. Kan di Indonesia, kalau orang asing melakukan eksplorasi dan dapat, maka mereka wajib membagi 10 persen ke perusahaan Indonesia. Nah, pada waktu itu biasanya ke Pertamina. Maka itu, waktu iu saya lihat-lihat bagaimana keterlibatan Pertamina karena hanya 10 persen.

……

……..

Jika ingin melanjutkan, silahkan klik saja….ekslusif

ANTARANEWS.ID
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »