ANTARANEWS.ID
Sisi Lain

Majalah MATRA Kembali Eksis

ANTARANEWS.ID

Kekinian dan mengikuti perkembangan teknologi. Menjadi bagian dari www.matranews

Majalah MATRA saat di bawah grup Majalah TEMPO, yang dipimpin oleh Fikri Jufri, sempat tirasnya 85.000 (delapan puluh lima ribu) eksemplar di tahun 1986.

Kala itu, Bondan Winarno dan Rhenald Kasali termasuk suka menulis di majalah Trend Pria yang sejak terbit Agustus 1986. Dengan rubrik andalan Wawancara Utama, Liputan, Kencan dan Investigasi.

Umur terbit majalah ini, sebulan sekali, menyajikan sisi lain dari berita-berita aktual. Memiliki feature yang menarik dan artikel yang wahid.

MATRA membahas trend pria, dari suatu kejadian, keadaan dan aspek kehidupan. Memberikan variasi terhadap berita-berita rutin.

Tersebutlah nama-nama beken, eks majalah Zaman, seperti Nano Riantiarno, Sori Siregar, Danarto, Kun S Hidayat, Nuriyah Abdurrahman Wahid, Kemala Atmojo, Ananda Moersid, Toeti Indra Malaon, yang ikut membesarkan majalah MATRA.

Model cover-nya: Pierre Gruno dengan kaki jenjang milik peragawati Oki Asokawati menjadi fenomena saat itu.

Ketika itu, Majalah MATRA dikenal piawai menulis tokoh yang diwawancarai yang memiliki daya bobot kritis, semacam Sabam Sirait, Sabam Siagian,Kwik Kian Gie, juga Ashadi Siregar.

Nara sumber tak sebatas Ali Sadikin, Adnan Buyung Nasution, Sjahrir, Amin Rais, Ki Gendeng Pamungkas, Tomy Soeharto, Setiawan Djodi, Franz Magnis Suseno.

Bahan wawancara dengan para tokoh ini masih relevan dengan situasi saat ini.  Ashadi Siregar yang mengangkat pers konglomerat dan gerakan mahasiswa, misalnya.

Amin Rais, tokoh reformasi 1998 masih segar bila kita menyimak tanggapannya tentang suksesi, Habibie. Bagaimana nasib demokrasi di Indonesia dianggap masih demokrasi dengan tapi yang ditanggapi Sjahrir.

Majalah MATRA dikenal dengan tulisan Jaya Suprana dan WS Rendra. Cermin sosok manusia (pria) Indonesia terungkap gamblang. Bulan Agustus 1986 adalah bulan kelahiran Majalah MATRA.

Asal tahu saja, Majalah MATRA bernomor 41 di bulan Desember 1989, sempat mendapat penghargaan cover terbaik di kawasan Asia. Jaya Suprana berdiri sambil dipeluk kakinya oleh Debby Sahertian.

Edisi Juli 1999 dengan cover Inneke Koesherawati disebut kontroversi. Karena cover majalah tersebut menampilkan Inneke Koesherawati yang berpose “sensual”. Kini, Inneke sudah menjadi wanita berkerudung.

Saking lakunya, MATRA bisa membeli sendiri sebuah rumah bertingkat di Jl. Buncit Raya, Jakarta Selatan. Dari kawasan jalan Warung Buncit inilah, era keemasan majalah MATRA terjadi.

Imam Baskoro dan Mahtoem Mastoem adalah sosok yang meng-“Hebat”-kan, selain Fikrie Jufri dan N Riantiarno.

Jojo menjadi bagian tim di Warung Buncit bersama Deded er Moerad, Bambang I Soedono, Urri Kartopaty, Usamah Hisyah, Arief Bargot Siregar dan Desmaizal Zaenal.

Ada Sunoto, Panji A Susila, Bagja, Abror Rizky dan Drigo L Tobing alumni juga.

Seangkatan Cendrawati, Firmiani Darsjaf, Wibowo Soemadji dan Ricardo Iwan Yatim serta Kun Syarif Hidayat.

Danarto juga sering menulis, termasuk Ayu Utami magang juga. Ada juga Gogor Ugroseno, dan Ismunandar A Syah dan Muklis Tolomundu serta Meike Malaon.

Pindah pemilik, sejarah lain terbentuk.

Awalnya, ketika masih dipegang oleh S.S Budi Rahardjo majalah MATRA masih bagus. Rupanya, karena “politik kantor” pria yang dipanggil Jojo jadi korban, dilengserkan oleh sang pemilik.

Sejak inilah, MATRA mulai kehilangan “roh jurnalistik”nya. Konflik “internal” terjadi, membuat tampilan majalah MATRA seperti juga kehilangan jati diri.

Manajemen baru, tak lagi menerapkan sistem “layak redaksi” dan rapat redaksi yang ketat.

Muncul era “anak emas”.  Sri S Tardjo menyerahkan pucuk kendali ke Arman Soelaiman, bukan lagi di Kemala Atmodjo. 

Ada nama-nama semacam Irwan Duse, Muhamad Latief, Qusyaini Hassan serta Abdul Kholis yang menjadi penulis tangguh di generasi MATRA Fatmawati.

Redaktur Pelaksana dipegang oleh Firman Yursak dibantu Irfan Budiman.

Sementara, S.S Budi Rahardjo alias Jojo, dilengserkan “ke atas”. Tak boleh mengedit tulisan. Hanya sebagai redaktur eksekutif, lebih aktif di luar.

Nah, S Dian Andryanto memilih mengundurkan diri, saat itu.

Di sinilah muncul persoalan. Tulisan tanpa editing yang ketat.

Muncul kasus, saat Bobby Candra menulis di rubrik Liputan.

Gara-gara tulisan: Preman-preman Jakarta, terjadi “penyerangan” oleh Hercules. Proses mediasi tak terjadi, sampai masuk ke ranah hukum. Kuasa hukum Hercules Rozario, yakni Gusti Randa.

Sedangkan, dari majalah MATRA adalah Todung Mulya Lubis.

Para tergugat yang diminta hadir tersebut terdiri dari PT Mitra Media Matra (tergugat 1), Toto R Tardjo (tergugat 2), Sri ST Rusdy (tergugat 3), Arman Soelaeman (tergugat 4), dan Bobby Chandra (tergugat 5).

Hercules menuntut majalah MATRA atas tulisannya pada edisi 217, Agustus 2004, yang berjudul Raja-Raja Metropolitan.

Dalam tulisan itu, ada sebuah anak artikel yang berjudul Tanah Abang Riwayatmu Kini, yang bercerita tentang Hercules. Tulisan anak artikel tersebut, menurut Hercules tidak akurat dan cenderung tendensius, menjatuhkan kredibilitasnya.

Bahkan menurut kuasa hukum Hercules, Gusti Randa, pihak MATRA tidak melakukan konfirmasi (cover both side).

Dalam tuntutannya, Hercules menuntut Matra membayar ganti rugi sebesar Rp 2 miliar. Namun, proses hukum dimenangkan oleh majalah MATRA.

Lepas dari kasus hukum, tak berarti majalah MATRA lepas dari persoalan.

Di tengah persaingan media cetak, membuat manajemen limbung. Karena “bisikan” yang salah, MATRA diubah.

Arman Soelaeman yang sangat loyal kepada pemilik dilengserkan oleh seseorang yang kala itu bisa meyakinkan “owner”, bahwa MATRA kalau mau bertahan hidup harus ganti konsep.

Maka, orang itu membawa seseorang untuk membereskan.

Konflik internal terjadi. Namun, rencana terus berjalan. Pada Mei 2005. Taglinenya pun berubah. MATRA bukan lagi Majalah Trend Pria tapi menjadi Majalah Khusus Kaum Lelaki.

Saat inilah, para wartawan yang punya idealisme “tak nyaman”.

Bukannya apa-apa, majalah MATRA yang dikenal punya konsep jurnalistik baik, saat di era Andi F Noya, Hermien Kleden, Tantyo Bangun, atau N Riantiarno. Oleh Hani Moniaga, MATRA dirubah total, jadi majalah khusus pria usia 21 tahun ke atas sejak Hani Moniaga menjadi pemimpin umum.

Wartawan yang menentang konsep ini, dilengserkan.

Sosok Hani Moniaga memang dikenal sebagai seorang fotografer dan pengusaha. Ia salah seorang pendiri produk busana unisex berlabel H & R (baca: Hani & Robert) -buah kemitraannya dengan TIRA.

Hani masuk ke MATRA dibawa oleh Jim Bari Aditya, hanya membawa konsep, bukan membawa “sekoper” duit. Komposisi saham juga tak berubah.

Wina Armada (adik Laksmana Sukardi) yang punya porsi sebesar 15%, sisanya dimiliki Teddy Rusdi dan Nyonya Sri. Saat Hani Moniaga masuk, konsep dan positioning MATRA yang ‘kabur’ membuat para pembaca dan biro-biro iklan ikut bingung.

Kekhasan MATRA dulu yang mengusung jurnalisme sastrawi dan penonjolan seni budaya, hilang tak berbekas.

Hanya dua atau tiga edisi, giliran Hani Moniaga pun dilengserkan oleh pemilik. MATRA pun berubah menjadi MATRA Golf dengan komando Firman Yursak.

Entah kenapa, MATRA pada April 2007, majalah MATRA “gulung tikar” alias tutup. Berita di luaran, MATRA tidak terbit karena konflik internal, ada juga yang menyebut konflik antar pemegang saham. Tak jelas mana yang benar.

Yang jelas, publik tak bisa lagi menemui hasil wawancara yang menarik.

MATRA TERBIT DENGAN IDEALISME

Jika dulu, Majalah MATRA banyak yang menyebut titisan dari Majalah Zaman. Gaya penulisannya jurnalisme naratif atau sastrawi. MATRA Indonesia yang kembali terbit rutin di bulan Agustus 2011, punya visi dan semangat itu. MATRA Indonesia terbit dalam kaitan konvergensi media.

Sejak dipegang S.S Budi Rahardjo, yang kerap dipanggil Budijojo inilah, kemudian majalah MATRA yang sempat tidak terbit, dikembalikan “ruh”nya dan dibenahi kembali, re-branding. Tentunya, dengan rubrik “Wawancara” dan “Liputan” serta “Investigasi”.

Jika dulu, MATRA oleh beberapa orang kemudian dideskripsikan sebagai majalah yang menggabungkan unsur sensualitas dengan intelektualitas. MATRA Indonesia, kini menampilkan cover di tokoh wawancara utama.

Cover MATRA Indonesia, tak lagi dengan perempuan cantik, seperti jaman sebelum reformasi. Pertimbangannya, saat ini pria dengan gampang melihat perempuan cantik di era digital, pria dengan mudah melihat perempuan cantik di internet dan “berserakan”.

MATRA Indonesia menampilkan figur dan wawancara ekslusif termasuk foto-fotonya yang tidak dimuat oleh media massa lain.

Yang menjadi ke-khasan ditonjolkan. Konten menjadi “kekuatan”nya. Hanya bisa jurnalis investigasi yang bisa menembus sosok-sosok hebat dan penting dan mengulik informasi hingga ke dapur rumahnya, gaya hidupnya, selain pemikirannya.

Foto covernya pun dikonsep, Yul Adriansyah yang kerap mengurusi penyajian cover (lapis depan majalah).

Bukan seperti ketika pertama kali berkantor di Proyek Senen, Lt. 4, satu lantai dengan penerbit Pustaka Utama Grafiti, majalah Medika, dan majalah Tempo. Tak lama kemudian pindah ke Setiabudi Building lantai dasar. Satu lantai dengan perwakilan koran Jawa Pos di Jakarta.

MATRA Indonesia, terbit bukan saja di print dan dijual di agen-agen atau toko buku. MATRA Indonesia masuk di era online dan gelembung dot.com.

Jika search di google, web ini mempunyai hits teratas. Majalahmatra.com ikut meramaikan dunia dot.com yang sedang naik. Bahkan, matranews.id terus berjalan sebagai media online terkemuka, dalam kaitan gonjang-ganjing konvergensi media.

MATRA Indonesia terbit bersamaan bisnis online yang marak dan menjanjikan.

Kini, MATRA Indonesia adalah konvergensi media, yang bisa di klik juga dengan e-magazine. Selain cetak, online juga akan ke arah TV.

Materi majalah yang biasa dicetak, hadir dalam teknologi digital yang jauh lebih fleksibel daripada harus membawa tumpukan majalah ke mana-mana.

Jika harian Kompas punya e-paper, majalah MATRA Indonesia memasuki versi mobile-nya. Kebiasaan membaca majalah disimulasikan dalam perangkat bergerak seperti iPad atau tablet untuk alat pembaca.

Aplikasi digital reading yang menyediakan konten materi publikasi dalam format digital, baik koran, majalah, maupun buku.

MATRA Indonesia bisa diunduh (pay per download) lebih murah daripada versi cetaknya. Dijual sekitar Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu. Lebih murah 70% daripada harga cetaknya seharga Rp 90 ribu.

Walau memang, penggemar cetak masih dominan.

MATRA Indonesia bisa berarti singkatan Majalah Trend Anda atau Trend Peristiwa.

Dalam kamus, “matra”, antara lain berarti dimensi, ukuran. Dan sesuai dengan konsep dasarnya, ingin memantau kecenderungan yang sedang hangat (trend) di tengah masyarakat pengambil keputusan.

Jojo alias S.S Budi Rahardjo yang merupakan jurnalis MATRA sejak di Grup Majalah TEMPO yang menginisiasi nama besar majalah MATRA untuk dihidupkan kembali.

Ia mengurus hak merek di Departemen Hukum dan HAM. Dengan dibantu Eko Oke, majalah ini rutin terbit. Disupport para marketing yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sekarang MATRA tumbuh di era digital, di era konvergensi media, selain di cetak bisa dibeli di gramediadigital.com, higoapps dan myedision. Klik deh. Hingga kini terus eksis.

majalah terbaru: MATRA edisi cetak

Bisa juga klik di Gramedia digital:Klik ini

ANTARANEWS.ID
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »