Rilis

Berkomunikasi Ria

Oleh: Gunawan Winata

129Views

I didn’t say that I didn’t say it.

I said that I didn’t say that I said it.

I want to make that very clear. (G. Romney)

Satu hal yang kita lakukan sejak bangun tidur adalah komunikasi. Pagi sampai dengan istirahat tidur di malam hari, kita melakukan kegiatan itu. Bahkan bisa dikatakan secara ekstrem, komunikasi kita lakukan sejak manusia lahir ke dunia. Seorang bayi yang menangis merupakan bahasa komunikasi versi si bayi.

Manusia melakukan komunikasi sejak lahir. Dan, itu kegiatan yang dilakukan secara berulang, terus-menerus, dan berkesinambungan. Maka, keterampilan berkomunikasi (communication skill), boleh dikatakan sebagai satu keahlian. Tetapi, survei dan kenyataan ternyata tidak semudah membalik tangan. Data menunjukkan, lebih dari 85% perselisihan di perusahaan disebabkan kesalahan dalam berkomunikasi.

Jadi, apakah berkomunikasi sesuatu yang mudah? Jawabannya, rasanya dan sepertinya: TIDAK! Baik itu berkomunikasi dalam komunitas paling kecil, seperti keluarga (suami-istri, orang tua-anak, menantu-mertua, dan lainnya). Komunikasi juga dalam kaitan hubungan kerja dalam perusahaan atau bidang kemasyarakatan dan dalam konteks konten bernegara.

Komunikasi memiliki beberapa syarat dasar, yaitu nada/tekanan suara, bahasa tubuh (body language), dan isi pembicaraan. Hal semacam itu, yang harus dimiliki, dikuasai dan diperbaiki terus-menerus menuju kesempurnaan dalam proses komunikasi.

Selain hal tersebut di atas, terdapat hambatan yang dapat mengganggu, yaitu dialek bahasa, atau latar belakang budaya. Yang juga sering menjadi hambatan adalah kesamaan dalam mengeset tingkat kepercayaan komunikator dan komunikan dalam communication process, agar didapatkan hasil akhir manfaat positif (win-win end result).

Berkomunikasi bisa berwujud dalam komunikasi komunitas terkecil, semacam keluarga, menyangkut urusan keseharian, atau masa depan yang harus dikomunikasikan seorang kepada yang lain. Juga bisa berupa input, coaching & training, pengajuan proposal, pendelegasian, berargumentasi, promosi jabatan, dan lainnya, yang terjadi di semua bagian dalam suatu perusahaan. Tidak ketinggalan, komunikasi dalam kegiatan kemasyarakatan dan negara, baik komunikasi perorangan, kelompok, maupun inter-departemen. Sebut saja, kerja sama kegiatan sosial sampai kepada koordinasi komunikasi skala nasional, seperti musibah banjir maupun sindrom SARS yang terjadi secara regional dan dunia.

Lalu, apa yang terjadi dengan tidak berkualitasnya suatu proses komunikasi? Pihak yang lose dan bukannya win akan merasa disepelekan dan tidak dianggap setara dengan mitra komunikasinya. Dalam komunitas keluarga akan terjadi hubungan yang buruk dan cenderung destruktif (kasus narkoba dan bunuh diri sebagai contoh dari dunia sehari-hari). Sedangkan di perusahaan, sampai kepada semangat kerja yang rendah dan negatif, yang pada proses berikutnya menghasilkan rendahnya produktivitas kerja dan tingginya turn-over karyawan/eksekutif dalam kasus perusahaan.

Dalam kegiatan kemasyarakatan dan bernegara, buruknya kualitas komunikasi tersebut menghasilkan rasa apatis, buruknya kerja sama kelompok/antardepartemen, serta tidak adanya satu kata dan perbuatan di lapangan. Itu karena, ada pihak yang merasa keberadaannya dipandang sebelah mata.

Secara alami, keempat lingkungan komunikasi di atas memerlukan dan membutuhkan persyaratan serta cara pendekatan proses komunikasi yang berbeda. Meskipun demikian, apa pun cara yang dipakai, hasil akhir yang harus dicapai adalah sama, yaitu win-win.

Kita kembali kepada konsep kualitas di atas, bila undelivered quality happened, maka terjadi sikap tidak ingin berkomunikasi aktif dan produktif lebih lanjut. Bila ini terjadi, sesungguhnya telah terjadi proses komunikasi yang mandek secara intangible, di mana (sepertinya) terjadi komunikasi tetapi kualitasnya sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi. Bila sudah begitu, hasil akhir win-win dan positif serta memberi manfaat, sudah dapat dipastikan tidak akan pernah terjadi.

Bagaimana solusi agar tidak terjadi hal tidak berkualitas tersebut? Ros Jay dalam bukunya The Seven Deadly Skills of Communicating (International Thomson Business Press, 1999), menulis kalimat yang intinya mengajak dan mengimbau kita untuk memunyai satu kebiasaan. Kebiasan itu adalah bukan hanya mendengar, tetapi menyimak apa yang disampaikan oleh seseorang yang berkomunikasi dengan kita (kami menyebut sebagai to listen, not just to hear).

“….Anda tidak dapat melakukannya dengan wajar dan bersungguh-sungguh, kecuali Anda belajar untuk mendengar dan menyimaknya. Memberi dan memusatkan perhatian kepada seseorang yang berkomunikasi, serta menunjukkan kepadanya bahwa Anda sedang benar-benar melakukan kegiatan mendengar dan menyimak tersebut….”

 Charles Darwin memberikan satu kalimat bijak: “It is not the strongest nor the most intelligent of the species that survives, but the one that is most adaptable to change.” Hal ini juga berlaku dan diperlukan dalam berkomunikasi, yaitu kebersediaan untuk meningkatkan kualitas dan (mengubah) tata cara untuk berkomunikasi. Bagaimana tidak, ini merupakan bagian dari era globalisasi dan perdagangan bebas sekarang ini. Di mana, perubahan terjadi dalam hitungan detik (prinsip perubahan).

Akhirnya, seperti yang terjadi pada klien kami, sebuah perusahaan industrial goods and services, kami diminta oleh “manajemen lama” untuk memberikan saran dan solusi strategis manajemen. Problemnya, hambatan komunikasi terjadi cukup serius antara “manajemen baru” dengan organisasi perusahaan yang terdiri dari “manajemen lama”.

Setelah melakukan pengamatan dan komunikasi secara independen di lapangan dan dengan meminta kepada para pihak untuk memberikan kesungguhan, keseriusan, dan pengorbanan kepentingan pribadi/kelompok dalam memberikan data, kami menemukan bahwa terjadi sesuatu yang disebut dengan perubahan (changes). Perubahan itu sesuatu yang terjadi secara alami dan harus dilalui (manajemen perubahan) serta bukannya dengan cara bongkar pasang manajemen (changes management, dan bukannya change the management). Kebersediaan para pihak untuk mendengar dahulu kemudian baru berbicara, juga merupakan kunci dari kebuntuan komunikasi selama ini.

Dengan goals & objectives yang win-win, hasil kesepakatan yang terkomunikasikan akan langgeng, berumur panjang, serta memberi manfaat positif. Dan, bila (sekali lagi bila) terjadi mis-komunikasi, para pihak akan duduk bersama, saling mendengarkan, serta tidak menyimpan bom untuk diledakkan sewaktu-waktu.

Komunikasi memerlukan wisdom and maturity. Akan lebih baik lagi, bila kita mau merendahkan hati, dan belajar kepada alam. Bukankah Tuhan Yang Maha Esa memberikan kepada kita, dua telinga untuk mendengar dan satu mulut untuk berbicara? Yang berarti, kita seyogianya harus mendengar dahulu baru berbicara. That is one most important factor! Tidak mudah memang! Tetapi, mengapa tidak dicoba bila the others can!

Penulis adalah praktisi manajemen dan human resources.

 

redaksi antara
the authorredaksi antara

Tinggalkan Balasan

Translate »