Minggu, Desember 15, 2019
Gaya Hidup

Bro, Please Deh Ah: “Laki-laki Monogamis Laki-Laki Perkasa”.

Oleh: S.S Budi Rahardjo (Sosialpreneur, Jurnalis & Aktivis)

279Views

ANTARANEWS.id —  Anak-anak zaman now, bahasanya senang dengan panggilan: “bro”, “cuy”. Tapi, untuk ke kaum perempuan, bisa dengan gampang menyebut panggilan, “Sayang.”

Terlepas apakah ini berlanjut ke poligami atau bukan. Di era digital, bahasa gaul semacam ini menjadi sebuah kebiasaan. O. M. G. P. D. A.! ( Oh my God, please deh, ah!).

Perlu disadari, tidak ada satu perempuan pun di muka bumi ini sudi dimadu. Kalau pun perempuan menerima, itu pasti karena terpaksa.

Ciyus nih. Kalau pun mereka mengatakan ikhlas di bibir, bisa dijamin hatinya berdusta. Dalam saat pacaran pun, mana ada perempuan mau diduakan.

Ini manusiawi. Memangnya, laki-laki mau diduakan?

Suka tidak suka, poligami menghasilkan suatu sistem ranking. Istri pertama. Istri kedua. Istri ketiga. Istri keempat. Istri kelima, dan istri seterusnya. Bisa dipastikan istri pertama merasa punya nilai lebih karena ia yang pertama.

Di bidang apa pun, masyarakat menerapkan sistem ranking. Kita semua pasti setuju, ranking di sekolah ditentukan atas dasar nilai.

Sebuah kontes menyanyi seperti Indonesian Idol dalam menentukan juara pertama mereka, juga dengan sistem ranking melalui perolehan SMS.

Jangan disamakan ranking ini dengan urutan lahir anak-anak. Karena, satu-satunya ranking yang tak berdasarkan nilai adalah kelahiran anak.

Kelahiran merupakan sesuatu yang paling alami. Bagi seorang ibu, anak keempat dan anak ketujuh sama nilainya. Lebih jauh, tanyakan pada setiap ibu.

Lakil-laki monogamis adalah laki-laki perkasa.

onogami jauh lebih sulit dibandingkan dengan poligami. Menekan hasrat melirik perempuan lain sulit bagi laki-laki. Ini seakan melawan kodrat lelaki. Menghormati janji pernikahan bukanlah pekerjaan mudah.

Seperti segalanya dalam hidup, pernikahan adalah tebakan gaib.

Tak ada manusia yang mengerti apa yang akan terjadi esok. Tak ada yang bisa menjamin, pasangan kita akan selalu sehat rohani dan jasmani. Ikrar setia sehidup semati merupakan janji paling berat.

Laki-laki menjadi perkasa, karena berani mencintai satu perempuan. Mendampinginya, dalam suka maupun duka.

Dan dalam monogami, cinta utuh itu tak terbelah. Bukankah ini lebih indah?

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »