Bunga Rampai Nonot Harsono Untuk Kemajuan Industri Selular

oleh -3 views

[ad_1]

Jakarta, Selular.ID – Jumat pekan lalu, Nonot Harsono, pengamat telekomunikasi dari MASTEL, tutup usia. Pria yang pernah menjabat sebagai komisioner BRTI dua periode itu, telah banyak membantu tumbuh kembangnya industri telekomunikasi di Tanah Air, baik dalam aspek teknis, bisnis, maupun regulasi.

Nonot tercatat merupakan tim penyusun naskah Rancangan Undang-Undang Telekomunikasi, menulis buku bisnis & regulasi telekomunikasi, tim inti penyusun Peraturan Menteri 21 tahun 2013, dan banyak rekomendasi kebijakan dan regulasi tentang telekomunikasi, internet, dan penyiaran.

Selama bergabung dengan MASTEL, ia juga mewariskan banyak pandangan yang sangat konstruktif bagi kemajuan industri telekomunikasi. Salah satunya perlunya operator selular segera berbenah dalam menghadapi disrupsi teknologi.

Menurutnya, dalam bisnis yang kompetitif operator perlu melakukan transformasi organisasi dan digital supaya lebih lincah.  Mereka harus meninggalkan cara-cara tradisional dan leader-nya mesti mampu mengambil keputusan cepat.

Seperti diketahui, kehadiran para penyelenggara layanan over the top (OTT) telah lama menggerus pendapatan operator telekomunikasi Indonesia melalui layanan-layanan yang dihadirkannya. Disrupsi yang diakibatkan oleh kehadiran OTT itu akan semakin parah jika operator tidak mawas diri dan segera berbenah.

Pasalnya, menurut Nonot, dalam beberapa kurun waktu kedepan akan terjadi pertukaran peran antara pelaku bisnis telekomunikasi dengan pemain OTT jika disrupsi ini terus berlanjut.

“Para pemain OTT yang selama ini menggunakan jaringan operator dan mengeruk keuntungan banyak akan mengambil peran operator selular Indonesia sebagai network operator,” ungkapnya.

Pandangan Nonot terhadap ancaman OTT itu, ia sampaikan dalam sebuah diskusi yang digelar Indonesia ICT Institute di Jakarta (05/02/2020). Nonot menambahkan, pemain OTT seperti Google, Amazon, Facebook dan Microsoft serta sekarang ini Netflix yang selama ini mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan jaringan operator sudah mulai membangun jaringannya sendiri.

Sementara itu operator di Indonesia yang tidak bisa beradaptasi dengan disrupsi teknologi ini akan kesulitan membangun infrastruktur karena tidak memiliki kemampuan financial lagi.

“Google dan Facebook sangat aktif bangun jaringan berkat uang yang didapat dari operator tapi nanti operatornya sendiri tidak kuat bangun jaringan. Jadi nanti kondisinya akan terbalik,” tegas pria yang menjabat sebagai Kabid Infrastruktur Broadband Nasional MASTEL.

Kekhawatiran ini menurut Nonot juga berlaku global baik di Eropa maupun Negara Asia lainnya. Kabel laut Google dikatakan Nonot sudah tersedia di seluruh benua. Bahkan sudah ada yang singgah ke Indonesia melalui salah satu operator yang ada di tanah air.

Kondisi tersebut menurut Nonot akan sangat bergantung pada kemampuan operator untuk bisa menciptakan kerjasama yang saling menghidupi. Operator dinilai Nonot juga harus mulai masuk menggarap IoT. Untuk bisa tumbuh dan berkembang di era IoT, operator telekomunikasi perlu mendata dan menguji apa saja strengths yang dimiliki dan kemudian dengan itu mengembangkan solusi-solusi bagi industri dan masyarakat.

Selain itu, Nonot menambahkan, operator selular bisa mengembangkan teknologi AI (Artificial Intelligence) untuk meningkatkan kualitas network. AI akan menjadikan kerja operasional lebih efisien, biaya pekerja yg lebih rendah, dan meningkatkan revenue.

Dan yang tidak kalah penting, menurut Nonot, pemerintah juga perlu hadir untuk melindungi industrinya. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga perlu dijelaskan kondisi yang ada sehingga pengusaha Indonesia bisa terlindungi. Nonot mengharapkan pemerintah memiliki kesadaran untuk mengelola disrupsi yang tengah terjadi agar yang terjadi transformasi positif di industri TIK.

Nonot menegaskan jika OTT tidak segera diatur, dalam jangka panjang akan banyak operator telekomunikasi lokal tidak dapat bersaing dengan OTT global dan ‘gulung tikar’. Kondisi yang membuka lebar potensi ancaman bagi kedaulatan digital Indonesia.

“Disrupsi bukan harus dipuja tetapi dikendalikan menjadi transformasi yang positif dengan pelaku industri nasional. Jangan sampai bunuh-bunuhan. Kalau mereka (asing) bisa masuk dengan keyword investasi, ya akhirnya mematikan,” pungkasnya.

Layanan 5G

Selain pandangan yang tegas terhadap ancaman OTT, Nonot juga turut menilai tentang implementasi 5G di Indonesia. Sebagai mana diketahui, kehadiran 5G akan meningkatkan sekaligus memajukan pengalaman selular dengan pengurangan latensi, biaya per bit rendah, kecepatan data yang konsisten dan lebih tinggi. Berbagai segmen baru, seperti game real time, AR, VR, dan MR juga akan berdampak besar dengan hadirnya 5G.

Meski demikian, ia berpandangan layanan 5G belum bisa dinikmati masyarakat Indonesia dalam waktu dekat. Indonesia dalam hal ini, dinilai masih belum siap untuk mengadopsi jaringan generasi kelima tersebut.

Pandangan Nonot itu disampaikan dalam diskusi Selular Digital Telco Outlook bertajuk ‘Kebijakan Network Sharing dan Frequency Sharing dalam UU Cipta Kerja, Jembatan Menuju 5G?’, Selasa (15/11/2020).

Dirinya menyampaikan bahwa ada dua alasan mengapa 5G belum siap hadir, antara lain persoalan terkait spektrum frekuensi dan fiberisasi. Belum adanya spektrum frekuensi khusus 5G dikatakan Nonot sebagai ‘masalah utama’.

Tantangan kedua disampaikan Nonot adalah fiberisasi atau upaya digitalisasi jaringan dengan cara menguhubungkan BTS melalui jalur fiber optic. Menurutnya, jika ingin 5G berjalan dengan maksimal maka ‘fiberisasi harus dikebut’.

“Jadi tahun 2021 dan 2022 itu sebagai tahun persiapan (5G di Indonesia),” imbuhnya.

Meski kini layanan 5G sudah diluncurkan di Indonesia oleh Telkomsel dan Indosat, berarti lebih cepat dari perkiraan, bagaimana pun pandangan Nonot terhadap 5G menjadi concern seluruh stake holder. Pemerintah perlu memperpecepat alokasi spektrum yang sesuai dengan kebutuhan 5G. Di sisi lain, operator perlu menggenjot fiberisasi sebagai back bone jaringan digital, sehingga kelak 5G dapat berkembang dengan maksimal di Indonesia.

Selamat jalan Pak Nonot Harsono. Insya Allah husnul chotimah. Amin YRA.

[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *