Minggu, Desember 15, 2019
Rilis

Generasi Milenial, Investasi Politik Jokowi

Penulis : Suhendra Atmaja, S.Sos, Msi, Lm

(Dosen Senior STIKOM InterStudi Jakarta)
89Views

 ANTARANEWS.id — Kolom

Terobosan baru kembali dilakukan pemerintahan Jokowi – Ma’ruf Amien, dengan menunjuk 7 (tujuh) Staf Khusus kepresidenan dari kalangan milenial, atau generasi yang lahir pada rentang tahun 1985-1997  atau generasi Z.

Ketujuh (7) pejabat milenial di sekeliling Jokowi telah banyak dilansir di media,  berusia sangat muda, berusia antara 25-37 tahun.

Tidak ada yang salah dalam penunjukan (tujuh) milenial ini. Positifnya adalah, Presiden Jokowi bisa menerima masukan yang sungguh sangat bermanfaat untuk pemerintahan dan negara.

Dalam sebuah kesempatan, Presiden Jokowi mengatakan Staf Khusus milenial ini akan menjadi partner pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan kekinian.

“Mereka akan menjadi teman diskusi saya, dalam pengambilan keputusan,” ujar Jokowi dalam sebuah kesempatan.

Ada rasa bangga dan haru terkait penunjukan orang-orang muda di pemerintahan, artinya anak-anak memiliki kesempatan yang sama dengan kamu experience atau kalangan orang tua untuk bersaing sehat dan bahu-membahu membangun Indonesia.

Keren, kesempatan anak-anak muda di pemerintahan benar-benar terwujud.

Penunjukan anak muda dalam pemerintahan sebenarnya telah banyak dilakukan oleh pemerintahan di banyak negara. Contohnya,  ditujuknya Syeq Saddiq Syeq Abdul Rahman, menjadi Menteri Pemuda dan olahraga Malaysia saat berusia 25 tahun.

Atau Shamma Al Mazrui, menjadi Menteri Urusan Pemuda Emirat Arab di usia 24 tahun. Atau Simon Haris, Alumni  Institut Teknologi Dublin menjadi Menteri Kesehatan Irlandia, Diusia 29 tahun, lahir 17 Oktober 1986. Indonesia sebenernya telah menunjuk Nadiem Makariem sebagai Menteri termuda di usia 35 tahun tapi penunjukan Stafsus Presiden Jokowi menjadikan warna tersebdiri bagi anak-anak muda milenial.

Penunjukan anak-anak muda di pemerintah sebagai Staf Khusus membawa marwah positif agar Indonesia bisa maju dan mendunia, dengan karakter anak muda yang pantang menyerah.

Investasi Politik

Secara politik, penunjukan orang-orang muda atau generasi milenial ini adalah investasi politik Jokowi untuk pemerintahan 10 hingga 20 tahun ke depan.

Apalagi anak tertua Jokowi, Gibran Rakabuming sudah masuk ke dunia politik atau  dipastikan maju sebagai kontestan calon walikota Solo pada tahun ini.

Tidak ada yang salah salam Investasi politik, apalagi hal tersebut bermanfaat untuk orang banyak.

Tak bisa dipungkiri, pada 10-20 tahun kedepan, generasi milenial akan menjadi pemimpinan di era pemerintahan baru dan langkah yang dilakukan Jokowi adalah langkah ‘’Santuy’ atau strategi yang tepat untuk kepemimpinan kedepan.

Kedepan,  generasi milenial dianggap adalah pemimpinan masa depan di negara ini.

Meskipun generasi ini, butuh Experience dan butuh bimbingan dan bantuan para orang tua untuk pengambilan keputusan-keputusan karena lagi lagi butuh kematangan dalam pengambilan keputusan strategis dan beresiko.

Seharusnya generasi Z, ini tidak boeh sombong apalagi jumawa.

Generasi milenial tidak perlu malu-malu untuk terus bertanya kepada ‘orang tua’ atau generasi diatasnya ketika membuat kebijakan, apalagi kebijakan tersebut bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat.

Diyakini, kelemahan generasi milenial adalah dalam hal pengambilan keputusan. Karena jiwa muda, generasi milenial disinyalir, ketika mengambil keputusan, harus menghasilkan efek dalam 24 jam, padahal ini dibutuhkan kesabaran, sebelum merubah kembali keputusan baru.

Masih banyaknya pejabat di pemerintahan yang berusia 60 tahun keatas, harusnya sudah sudah tidak perlu terjadi lagi jika regenerasi benar-benar dilakukan secara baik dan masif. 

Penunjukan pejabat berumur tersebut lebih  karena pengalaman dan bisa juga karena faktor politik.

Gagalnya generasi milenial yang memimpin dalam sebuah lembaga atau departemen, bisa dikatakan kurangnya opportunity yang diberikan, sehingga generasi Z, menjadi minim pengalaman.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan generasi milenial ketika memimpin adalah perlunya keseimbangan emosial, hal ini bisa dimaklumi mengingat usia mereka yang masih relatif muda.

Ke depan kita berharap, kaum muda dengan rentang usia 25-35 tahun banyak berada di pemerintahan dan menjadi pemimpina di Lembaga-lembaga pemerintah

Tentunya, dengan  menjual konsep kekinian dan mengedepankan kepetingan masyarakat dengan pemecahan masalah yang cepat, taktis dan kematangan yang mumpuni, semoga.

baca juga:   https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/eksekutif    

Foto kolase Staf khusus Presiden Joko Widodo yang baru dari kalangan milenial (kiri ke kanan) Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra, Pendiri Thisable Enterprise Angkie Yudistia, Peraih beasiswa kuliah di Oxford Billy Gracia Yosaphat Mambrasar, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung dan Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII Aminuddin Ma’ruf saat diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11/2019). Ketujuh stafsus milenial tersebut mendapat tugas untuk memberi gagasan serta mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/nz 

 

 

 

 

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »