Minggu, Desember 15, 2019
Inspirasi

Good Attitude & Softskills Itu Harus Dilatih

410Views

Seorang coach, pelatih seminar, ia juga penulis handal sempat menulis di sebuah majalah bisnis dan gaya hidup majalah eksekutif. Yang ditulis Gunawan Winata itu, mengenai: Soft Skills & People Management.

Apa itu?

Ringkasnya begini. Bahwa syarat yang paling dibutuhkan para karyawan dalam bekerja adalah, menurut survei yang dilakukan oleh Duxbury & Higgins, para karyawan setidaknya membutuhkan tiga hal dalam bekerja.

Hal yang pertama adalah, suasana kerja yang kondusif-suportif.

Kemudian, yang kedua adalah paramanajer yang people-oriented sekaligus mampu memotivasi mereka dalam pencapaian target kinerja.

Untuk poin yang ketiga adalah, pemimpin yang memiliki dan melaksanaka napa yang disebutdengan “leading by example” (with good attitude).

Wih, semakin menarik bukan?

Tentu saja, karena ini seharusnya memberikan insight kepada para pencari kerja―lulusan SMU, Diploma, atau S-1/S-2―bahwa untuk memasuki dunia kerja dengan smooth.

Pertanyaannya dalam tulisan itu, apakah mereka sudah memperlengkapi diri atau diperlengkapi dengan (good) attitude dan soft skills?

Seorang Training & Development Manager perusahaan terkemuka mengatakan, bahwa kekurangan ―bila harus disebut demikian― para tenaga kerja yang tersedia bukanlah pada knowledge atau skills, melainkan lebih kepada attitude(inner-things).

Kesaksian sang coach, berdasarkan pengalaman melakukan consultancy maupun training kepada klien adalah, memberikan findings yang membenarkan statement di atas.

Bahwa berbekal pandai-ilmu plus mampu-mahirsaja ternyata is not enough bagi para pencari kerja untuk masuk ke dunia pasar kerja yang, right now and then, akan semakin selektif, kompetitif, dan terbuka (karena globalisasi).

Soft skills dirasakan sebagai modal penting yang perlu dimiliki seorang individu, seperti attitude, communication capability, self confidence, maturity, (self) motivation, atau pun “selling skill” ternyata kurang dimiliki para lulusan yang ada saat ini.

Rhenald Kasali, juga mengakui dan membenarkan hal di atas bahwa soft skillsi―sikap, teknik berbicara/mendengarkan, membuat rencana, disiplin diri, negosiasi dan seterusnya ―tidak dimiliki oleh para lulusan dan dengan demikian jelas mereka tidak akan mampu bekerja.

Universitas memang telah menjadi “pabrik” pengetahuan, yang maaf, belum tentu para lulusannya bisa “dipasarkan” dengan baik.

Kenyataan di atas telah memberikan dasar banyak coach atau pelatih seminar sekarang ini banyak order. Apalagi, mengutip cerita di medsos yang saat ini sempat viral. Ada seorang konglomerat, profesional dan orang hebat, yang dikhianati oleh karyawannya sendiri, yang sudah 16 tahun bekerja.

Sudah dinaikan statusnya sang karyawan, diberi kepercayaan, eh malah melakukan penghianatan.

Tragis bukan?

baca juga: Kesaksian Viral

Untuk itu, bukan saja knowledge dan (hard) skills saja yang menjadi konsen kita, tetapi hal soft skills juga menjadi concern, strategic reasons, serta key factors-nya.

Jojomedia coach kerap mendatangkan para pelatih seminar semacam Gunawan Winata itu, untuk melatih para karyawan di beberapa perusahaannya.

Bukan bermaksud menggarami “air laut” tapi memberi literasi dan pelatihan sebagai referensi, men-charge atau sekedar mengingatkan ke karyawan, jangan sekedar “teng go”, masuk kerja di saat bunyi bel kemudian siap-siap berkemas, boro-boro memikirkan kinerja perusahaan.

Hanya menunggu gajian di tanggal 25 atau THR, tanpa punya hati dan mengerti jobdesk.

Dengan pelatihan, terjadi:
1. Interactive, para pengajar dan murid dapat freely melakukan two-way communication sehingga tidak ada “ganjalan” di dalam proses belajar-mengajar, seperti: pengajar tidak pernah membuat kesalahan, karena dalam kenyataannya mereka bisa dan dapat melakukannya.

2. Caring & Deep Attention, perhatian yang menyeluruh serta individual, bahwasanya pengajar dan murid ternyata non-sterile dengan “life problems”, sehingga mereka dapat take care of each other, karena “we were given two ears and one mouth, it might be that we were intended to listen twice as much as we speak”.

3. Fun & Enjoyable, bahwasanya proses belajar-mengajar merupakan sesuatu yang seharusnya sebagai: “karena mencintai”, bukan “karena harus”.

4. Proactive, Self Development, Self Confidence dan Creativity, added-values kepadaparapengajardanmurid.

5. Para pengajar, selain harus mencintai pekerjaannya, juga Pleasant, Matured dan Keep on Learning. Sebab yang diperlukan, “It is what you learn after you know it all that counts. Learning is a continuousprocess!”

Dengan lima points di atas, bila hal tersebut dapat dimasukkan dalam kurikulum pelajaran di pendidikan kita, kami yakin dan pasti para lulusan yang dihasilkan di waktu mendatang akanlebih siap jual dan dijual.

Para pelatih alias coach, membentuk mereka sehingga siapa yang dilatihnya memiliki knowledge dan(hard) skills, yang perlu dan penting, mereka juga dibekali serta membekali diri dengan (good) attitude dan soft skills.

Seperti yang pernah dipaparkan dalam kalimat bijak Aristoteles, “Kesenangan di tempat kerja menjadikan kesempurnaan di dalam bekerja”, kiranya bisa memberikan enlightening kepada kita untuk selalu memiliki, keep, dan mengaplikasikan good attitude dalam melakukan pekerjaan.

Karena, bukanlah pekerjaan kita yang salah/benar atau kitasuka/tidaksuka, tetapi di atas semuanya itu, sikap dan cara kita bersikap di dalam melakukan pekerjaan tersebut, itu yang penting. Kami yakini, sebagai one of the most important factor!

Kiranya catatan ini menjadi referensi.

Tidak mudah memang! Tetapi, mengapa tidak dicoba bila the others can!

Salam erat

S.S Budi Rahardjo alias Jojomedia Coach
#0816-1945288

klik: ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »