Inspirasi

Isa Al-Masih = Yesus Kristus

3.34KViews

 

ANTARANEWS. id — Banyak hingga kini bertanya-tanya, apakah Isa Al-Masih merupakan Yesus Kristus. Jawabnya adalah, Iya. Karena rahmat terbesar Allah bagi manusia. 

Allah Maha Penyayang dan Maha Adil tahu bahwa manusia tidak mampu menolong diri mereka sendiri; hanya Allah yang dapat mengangkat mereka dan mengembalikan hubungan manusia dengan Allah seperti sediakala. Pertolongan itu Allah berikan sebagai Rahmat terbesar melalui sosok Isa Al-Masih.

Isa Al-Masih adalah Kalimat Allah (Firman) yang mengambil wujud manusia lewat kelahiran-Nya yang ajaib. Lahir dari seorang perawan, tanpa proses reproduksi ,tetapi oleh Ruh Kudus diletakkan dalam rahim perempuan mengambil wujud manusia.

Nabi Yahya menyebut Isa Al-Masih sebagai ‘Anak Domba Allah yang mengangkat dosa manusia’ karena memang Isa adalah satu-satunya yang layak dalam pandangan Allah untuk menjadi ‘Kurban Agung’.

Isa Al-Masih mengurbankan hidupnya, dan mencurahkan darah-Nya untuk membayar lunas semua hutang dosa manusia. Barangsiapa yang percaya, mengakui, dan mengimani Isa Al-Masih sebagai Sang Penyelamat dan Junjungan Yang Ilahi akan mendapatkan rahmat keselamatan dan memperoleh Jalan Lurus ke surga.

Kelahiran, kehidupan, dan misi Isa Al-Masih telah ditetapkan Allah dan diramalkan jauh sebelumnya. Semuanya tercatat dalam Kitab-Kitab Terdahulu yang ditulis melalui wahyu Allah kepada para nabi, jauh sebelum kelahiran Sang Mesias. Mengapa demikian? Karena Isa Al-Masih adalah rahmat Allah terbesar yang Allah janjikan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan Allah yang semula. 

“Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia menganugerahkan Sang Anak yang tunggal itu supaya setiap orang yang percaya kepada Sang Anak tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.” (Surat Yahya 3:16)

Injil telah menulis tujuan utama kedatangan Isa Al-Masih ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari ikatan belenggu dosa. Inilah fakta utama mengapa Isa Al-Masih harus wafat. Hanya dengan kematian-Nya di saliblah dosa manusia dapat dibayar lunas.

Di Al-Quran mengatakan Isa Al-Masih tersalib, namun ada ayat lain yang mengatakan dengan jelas bahwa Dia wafat. “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku [Isa Al-Masih], pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Qs 19:33).

Injil juga memberi kesaksian yang sama, “Lalu Isa Al-Masih berseru . . . ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya” (Injil, Rasul Lukas 23:46).

Kematian Isa Al-Masih di salib juga menggenapi nubuatan Nabi Besar Yesaya, “Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik . . . sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya” (Kitab Nabi Besar, Yesaya 53:9).

 

Bagaimana dengan gambar Natal yang menampilkan bayi Yesus di palungan didampingi Maria dan Yusuf, dengan latar belakang kandang hewan, beberapa hewan, para gembala dan orang Majus?

Demikian juga dalam drama Natal sering ditampilkan kisah para gembala datang bersujud pada Yesus. Tak lama kemudian datanglah 3 orang Majus juga sujud di tempat itu dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur.

Itu menjadi tradisi ratusan tahun sehingga membentuk persepsi bahwa orang Majus menemui Yesus bertepatan saat kelahiranNya di kandang hewan.

Benarkah persepsi itu?
 

Matius 2:10-11 mencatat bahwa para majus menemui bayi Yesus di sebuah rumah, bukan di palungan. Lagipula, keputusan Herodes untuk membunuh semua bayi yang berusia di bawah 2 tahun berkaitan dengan waktu yang diberitahukan oleh para majus (Matius 2:16).

Ini menyiratkan bahwa pada saat orang majus sampai di Yerusalem atau Betlehem, Yesus bukan lagi seorang bayi mungil yang terbungkus dengan kain lampin. Ia kemungkinan besar sudah bisa berjalan dan bermain-main, karena usianya sudah di atas satu tahun. Orang tuanya pun sudah berpindah dari kandang binatang ke rumah biasa.

Mengapa kisah orang-orang majus perlu dicatat?

Pertanyaan ini bisa dijawab secara beragam dan saling melengkapi. Walaupun demikian, berdasarkan konteks Matius 1-2, tujuan yang paling dominan adalah untuk menekankan status Tuhan Yesus sebagai raja, secara khusus sebagai raja dari keturunan Daud. Beberapa petunjuk teks mengarah pada kesimpulan ini.

Di awal silsilah, Yesus disebut sebagai “anak Daud” (Matius 1:1). Keturunan dari Daud ini bahkan lebih dominan daripada keturunan dari Abraham, yang ditunjukkan melalui keutamaan Daud dalam silsilah. Nama Daud muncul dua kali dalam ringkasan silsilah (Matius 1:17). Pengaturan silsilah ke dalam pola “3 x 14” juga didasarkan pada nama Daud dalam Bahasa Ibrani yang tiap hurufnya jika ditambahkan berjumlah 14 (Daud = Dwd, D = 4, W = 6, D = 4).

Yusuf pun disebut sebagai “anak Daud” (Matius 1:20). Kelahiran Yesus yang menggenapi nubuat Nabi Yesaya (Yesaya 7:14; Matius 1:22-23) selaras dengan janji TUHAN kepada keturunan Yehuda/Daud (Yesaya 7:2, 13) bahwa Ia akan meneguhkan kerajaan Yehuda melalui Daud atau keturunan Isai (Yesaya 9:7; 11:1).

Posisi kelahiran di Betlehem pun turut mempertegas ide bahwa Yesus adalah raja dari keturunan Daud (Matius 2:5-6). Kegeraman Herodes di Matius 2:1-12 juga menunjukkan persaingan antara dua raja.

Dengan menampilkan kisah kedatangan orang-orang majus, Matius ingin menandaskan status Yesus sebagai Raja Israel. Kekuasaan-Nya bukan hanya terbatas di wilayah Israel. Bangsa-bangsa lain pun datang untuk menyembah Dia.

Ini sesuai dengan penutup Injil Matius: “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19). Penyertaan-Nya kepada murid-murid sampai kesudahan zaman (Matius 2:20) cocok dengan nama yang dilekatkan pada saat kelahiran-Nya, yaitu Imanuel, Allah beserta dengan kita (Matius 1:23).

Perlu dikaji, supaya orang Kristen, terutama para pengkhotbah, pengajar, atau Guru Sekolah Minggu tidak salah dalam menafsirkan, mengajar dan menyampaikan Firman Tuhan.
 

Apa yang tercatat di Alkitab?

 Kisah orang Majus ini hanya tercatat dalam Injil Matius 2. Dikisahkan orang Majus datang dari Timur ke Yerusalem mengikuti petunjuk bintang untuk menyembah raja orang Yahudi yang baru lahir. Raja Herodes terkejut lalu memanggil imam kepala dan ahli Taurat menanyakan tempat Mesias dilahirkan.
 
Para imam dan ahli Taurat menjawab Mesias akan lahir di Betlehem. Herodes memanggil orang Majus dan bertanya kapan bintang itu nampak. Lalu menyuruh mereka ke Betlehem. 
 
Bintang itu muncul lagi dan berhenti di tempat Anak itu berada. Lalu mereka masuk ke dalam rumah dan melihat Anak itu bersama Maria. Mereka kemudian sujud menyembah dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Sesuai peringatan dalam mimpi, mereka kembali melalui jalan lain.
 
Setelah orang Majus berangkat, malaikat memerintahkan Yusuf membawa Yesus dan Maria mengungsi ke Mesir sebab Herodes akan membunuh Yesus. Yusuf bersama Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir.
 
 Herodes kemudian menyuruh membunuh semua anak di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah sesuai waktu yang diketahuinya dari orang Majus
 

Analisis terhadap catatan Alkitab di atas

Dari catatan Alkitab tersebut, dapat dianalisis beberapa hal, antara lain
 

Orang Majus datang dari tempat jauh di Timur, diperkirakan di daerah Irak. Perjalanan dari tempat itu ke Yerusalem saat itu memerlukan waktu berbulan-bulan. Jika bintang itu muncul saat kelahiran Yesus, tentu memakan waktu lama untuk tiba di Yerusalem. Tentu saja mustahil Maria dan Yusuf masih tinggal di kandang itu. 

Berdasarkan keterangan para tokoh agama Yahudi, Herodes menyuruh orang Majus ke Betlehem. Mereka segera berangkat ke Betlehem. Jika Yesus saat itu masih berada di kandang hewan, tidak mungkin mereka dapat berjumpa dengan Yesus di Betlehem.

Dikatakan bintang itu berhenti di tempat Anak itu berada lalu mereka masuk ke rumah. Jelas tertulis bahwa Yesus sudah disebut Anak, bukan bayi dan mereka masuk ke rumah, bukan ke kandang.

Esok harinya Yusuf membawa Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir. Dalam Lukas 2:21-22, dikisahkan bahwa saat berusia 8 hari Yesus disunat dan setelah genap waktu pentahiran, Yesus dibawa ke Yerusalem dan diserahkan ke Tuhan.

Masa pentahiran adalah 33 hari. (Imam. 12:2-4) Jika Yesus mengungsi ke Mesir saat masih di kandang, berusia satu hari, mustahil dia bisa melakukan upacara penyunatan dan penyerahan.

Herodes memerintahkan membunuh anak berusia 2 tahun ke bawah sesuai keterangan orang Majus. Berarti dari keterangan itu, Herodes memperkirakan usia Yesus mendekati 2 tahun.

 

Akhir Kata

Dari analisis berdasarkan catatan Alkitab dapat disimpulkan bahwa orang Majus tidak menjumpai Yesus saat Yesus lahir di kandang hewan, melainkan di tempat lain saat Yesus berusia mendekati 2 tahun. 
 
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »