RilisViral

Jakarta Tidak Lockdown, Hanya Social Distancing Measures

94Views

ANTARANEWS.id — Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta menegaskan, Jakarta saat ini masih dalam tahap pembatasan interaksi. Mengantisipasi semua kemungkinan, dengan melakukan pengurangan interaksi antar manusia.

Anies menanggapi kencangnya isu penutupan akses menyeluruh atau pembatasan sosial berskala besar di suatu wilayah (lockdown) bagi Jakarta. Urusannya, ya karena penyebaran virus corona jenis baru (Covid-19).

“Butuh kerja sama dengan masyarakat.  Pemerintah hanya menganjurkan,” tegas Anies mengimbau warga agar berkegiatan di rumah dan mengurangi interaksi. Termasuk juga menunda sejumlah kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan orang banyak.

“Kami minta kepada seluruh masyarakat mengikuti imbauan ini. Karena virus yang kita hadapi ini tidak terlihat tapi penularannya sangat pesat dan tidak pilih, semua punya potensi tertular,” tutur Anies. 

Saat ditegaskan apakah ada skema lockdown yang telah dibuat Pemerintah Daerah DKI Jakarta, Anies mengatakan pihaknya tetap fokus pada Social Distancing Measures atau pembatasan berkontak langsung antara masyarakat.

Isolasi Wilayah Alias Lockdown 

Langkah lockdown pun diyakini dapat menekan penyebaran atas virus corona. Lockdown sendiri artinya negara mengunci akses masuk dan keluar masyarakatnya di dalam suatu daerah. Namun, sebetulnya ada dampak ngeri menanti Indonesia apabila lockdown dilakukan

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo D P Irhamna mengatakan, jika Jakarta harus dilakukan karantina atau lockdown untuk menangani penyebaran virus corona atau Covid-19 siap-siap laju inflasi bisa meroket naik dengan tajam.

“Yang akan pengaruh ke inflasi, sebab pasokan barang-barang impor akan terganggu sedangkan demand meningkat, selain itu akan mendekati bulan ramadhan,” kata Ariyo.

Sehingga kata dia, dampak ekonomi keseluruhan bagi Indonesia tidak bisa dihindarkan, apalagi Jakarta merupakan kota bisnis terbesar di Indonesia sehingga akan sangat mempengaruhi indikator pertumbuhan ekonomi.

“Saya rasa dampak ke ekonomi tidak bisa dihindarkan, sehingga kebijakan yang perlu didorong adalah untuk mengurangi penyebaran Covid-19 dan meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan,” katanya.

Virus corona memang membuat susah semua orang di dunia tak hanya soal kesehatan saja yang terganggu, sektor bisnis pun terganggu dengan virus satu ini.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyebut bahwa apabila Jakarta saja yang lockdown, Indonesia bisa krisis ekonomi.

“Indonesia bisa krisis karena lockdown di Jakarta,” tegas Bhima yang menyebut, sejauh ini 70% pergerakan uang dalam perekonomian nasional berada di Jakarta. Akan sangat berisiko bila aktivitas perekonomian lumpuh karena melakukan lockdown di Jakarta.

“70% uang juga berputar di Jakarta, ada Bursa Efek, ada bank sentral. Terlalu berisiko kalau kita mengambil langkah lockdown,” kata Bhima.

Belum lagi pasokan bahan baku pokok bagi masyarakat Jakarta akan terhambat, utamanya pangan. Sejauh ini, menurut Bhima, Jakarta mengandalkan pasokan pangan dari luar daerah.

“Arus barang yang masuk juga terganggu. Jakarta mengandalkan sebagian besar bahan pangan dari luar daerah,” papar Bhima.

Sementara itu Jakarta juga menyumbang 20% angka inflasi nasional. Kalau barang langka di Jakarta dan berujung pada kenaikan harga secara lokal, maka angka inflasi nasional bisa saja terkerek hingga 6%.

“Sementara Jakarta menyumbang 20% total inflasi nasional, kalau barang susah masuk, terjadi kelangkaan pastinya inflasi nasional akan tembus di atas 4-6%. Yang rugi adalah masyarakat sendiri,” kata Bhima.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menambahkan, jika terjadi lockdown di Jakarta akan memberikan hantaman keras bagi pekerja sektor informal. Dia menyebut banyak masyarakat kecil penjual makanan ringan akan menjadi yang pertama kehilangan pendapatan.

Lockdown itu untuk Indonesia dampak negatifnya jauh lebih besar dari negara lain karena banyak yang di sektor informal. Pedagang bakso nggak bisa jualan bakso. Berapa ribu masyarakat kita yang jualan bakso, yang jualan ketoprak, yang jualan pecel, yang jualan siomay, yang buka warung. Mereka akan kehilangan income. Berapa lama mereka bisa bertahan,” ujar Piter.

Pemerintah Mempersiapkan Opsi Terbaik
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku telah menyiapkan anggaran jika sewaktu-waktu ada daerah yang harus di lockdown atau isolasi karena wabah virus corona atau Covid-19.
 

Hal tersebut dikatakan Sri Mulyani melalui video teleconference.
 
“Mengenai kesiapan, pasti akan disiapkan (anggaran lockdown). BNPB kalau memutuskan suatu daerah dilakukan isolasi pasti sudah memikirkan gimana supporting growth. Bahkan, sampai memikirkan tempat yang pemukimannya cukup padat dan social distancing-nya agak sulit dilakukan,” kata Sri Mulyani.
 
Lebih lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menambahkan bahwa pemerintah akan membantu menjaga pertumbuhan ekonomi yang akan terdampak jika terjadi lockdown.
 
Menurutnya instrumen fiskal pemerintah perlu dikonsentrasikan untuk menjamin ketersediaan bahan pokok serta menjamin aktivitas logistik berjalan lancar.
 

Karena itu, sampai sekarang pemerintah pusat masih mengkaji skenario yang sudah diterapkan di beberapa negara tersebut.

 

redaksi antara
the authorredaksi antara

Tinggalkan Balasan

Translate »