Kalau Boleh Kau Kusembah – – SastraMagz.com

oleh -5 views

[ad_1]

Martin Aleida
Republika, 17 Juni 2007

Sudah sejak dari tadi dia berdiri di sudut pekarangan itu. Dengan sayu menebarkan pandang, mengamati taman yang mengapit jalan masuk. Matanya menyelidik tiap ranting pohon, tiap helai daun yang kering tergeletak tak berdaya.

Hatinya turut meranggas melihat mereka terombang-ambing dipermainkan angin. Hina, tak berdaya. Dia merasakan bagaimana getirnya mereka menghadapi kematian di tanah yang diterbengkalaikan itu. Dan dia tahu akhirnya semua yang tumbuh di taman itu akan menyongsong nasib yang sama. Layu. Mati. Dan, dilupakan.

Seluruh perhatian, keterampilan, dan bakat yang dia miliki sebagai tukang kebun, yang dia tumpahkan selama tigapuluh tahun pada bidang tanah itu akan lenyap tak berbekas. Tetapi, kalaupun itu datang, dia sudah siap menerimanya. Dia sadar, penderitaan batin yang tak tertahankan nanti, tentulah ketika harus menyaksikan lanskap yang telah dia bangun. Lanskap yang kalau dilihat, sekalipun sepintas, orang bisa menangkap bahwa di tetumbuhan yang ditanam, di atas gundukan tanah yang bergelombang itu, dengan jelas terbaca adanya upaya untuk membentuk huruf berbunyi “Allah” dan “Muhammad” yang ditempatkan dengan terukur untuk menyambut orang yang datang.

Tak ada tukang kebun yang bisa menyamai kemahirannya. Kemahiran yang diyakini merupakan rahmat yang jatuh ke tangannya berkat keuletan yang didasari kebersihan rohani. Kesucian jiwa. Tak pernah dia bayangkan lanskap yang dia ciptakan dengan kekuatan batinnya itu akan lenyap. Tanaman yang membentuk kata-kata puncak dalam keyakinan Islami itu akan kering, lalu mati.

“Bahar!” seru sekretaris dengan lembut, memanggil namanya. Dengan hati seberat batu, dia menoleh ke arah datangnya suara. “Masuklah. Dipanggil Bapak. Sudah lama dia memperhatikanmu beridiri di situ.” Dia belum juga beranjak. Di tangannya tergantung sebilah arit. Tak acuh, dia menatap sekretaris itu.

Dengan arit tetap tergenggam, Bahar memasuki ruang tamu kantor itu. Lantas menuju ke kamar direktur. Mengetuk pintu, mengucapkan salam, dan melenggang masuk dengan kalem. Omara Otunnu, direktur berdarah Kenya itu, berdiri dan mengulurkan tangan menyambutnya. “Lama kau kuperhatikan dari jendela. Kau seperti berbisik. Aku tahu kau sedang berdoa. Kalau boleh tahu, apa yang sedang kau doakan?” katanya bersahabat.

“Bukan,” Bahar menyahut dengan dingin sambil menatap orang yang duduk di depannya. “Tidak. Aku bukannya berdoa. Aku menyesali diri. Mengutuk organisasi kita ini. Katanya, didirikan untuk meciptakan damai, seperti cita-cita Islam. Dia dirusak Amerika dan konco-konconya. Iraq dan rakyatnya mereka tindas. Mereka lumatkan. Sekarang mereka mau melenyapkan taman yang sudah saya pelihara tigapuluh tahun. Tigapuluh tahun… Kau tahu itu Omar,” dia menutup kalimatnya seraya memejamkan pelupuk mata perlahan.

“Kalau agama membenarkan, akan kusembah kau supaya menerima kenyataan ini. Kau samasekali tidak dihinakan. Pekerjaan sebagai cleaner tidaklah rendah. Iman melekat pada pekerjaanmu itu. Kusembah kau, kalau bisa. Ini hanya perubahan nama. Dan… gajimu toh tak berkurang.”

“Apa? Bagaimana sebagai seorang Muslim kau bisa berkata begitu. Tukang bersih itu pekerjaan orang Yahudi ketika mereka diperbudak Fir’aun. Cleaner bukan pekerjaan Muslim. Aku tak mau membiarkan diriku dihina. Tidak. Aku tetap tak bisa menerima pekerjaan sebagai cleaner. Aku yakin kau bisa berbuat sesuatu. Kalau kau mau…” Bahar memalingkan mukanya. “Ini keputusan New York,” sambut Omara cepat. Sikapnya tak berubah, bersahabat. Tutur katanya tetap lembut membujuk.

“Bahar, pertimbangannya, saya kira, begini. Berapa sih kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa yang punya kebun? Ingat, para pemimpin hanya berpedoman pada London, Washington, Tokyo. Di sana kantor hanya menempati bagian kecil dari gedung raksasa. Seperti sarang merpati. Mana ada kebun.”

Omara membuang muka. Seperti segan menatap mata Bahar, orang yang begitu bangga dilahirkan sebagai tukang kebun. “Kalau bisa kusembah, akan kusembah kau. Terima Bahar. Terimalah kenyataan ini. Di dalam Qur’an maupun Hadits, tukang kebun tak pernah dihubungkan dengan keimanan. Tetapi, kebersihan jelas-jelas dikaitkan, kalau bukan disenapaskan, dengan iman,” katanya memikat. Matanya tetap menghindar dari tukang kebun yang duduk dengan penuh percaya diri di seberang mejanya yang besar dan kukuh.

Sebagai seorang diplomat, tak pernah Omara menghadapi persoalan segila seperti menghadapi tukang kebunnya ini. Tak pernah dalam kariernya, yang sudah lebih dari duapuluh tahun, harus menangani masalah yang begini runyam. Ini samasekali sama dengan mengerjakan sesuatu yang musykil. Edan, malah.

Omara merasa seperti terperangkap jalan buntu dalam menghadapi manusia lugu yang bernama tukang kebun itu. Bahar tetap menolak untuk berganti jabatan sebagai cleaner. Dia sudah memasang harga mati. Tetap sebagai tukang kebun yang sudah dikerjakannya sejak tigapuluh tahun yang lalu atau Perserikatan Bangsa-Bangsa akan dia adukan ke pengadilan karena merendahkan martabat manusia.

Organisasi dunia itu membuat berita besar. Dia bangkrut. Karena anggota, terumata Amerika Serikat, tidak melunasi iuran wajib. Untuk membayar gaji pegawai, yang berjumlah ribuan, dia mengutang kiri-kanan. Terpaksa dilakukan penghematan. Pos-pos tidak penting digunting. Di seluruh dunia, keputusan untuk meniadakan jabatan tukang kebun, diterima tanpa banyak cingcong. Tetapi, di sini, kebijakan itu berhadapan dengan kekerasan sikap yang tak pernah dibayangkan para pengambil keputusan. Bahar, si tukang kebun, membangkang. Dan dia siap menerima kenyataan paling buruk sebagai akibat dari sikapnya itu.

Bujuk rayu tak bisa melenturkan sikap si tukang kebun. Pernah seorang pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sedang pulang cuti, singgah ke kantor itu untuk meyakinkan Bahar bahwa pekerjaan cleaner itu tidaklah hina. Dia contohkan dengan dirinya sendiri menyapu, membersihkan dapur, mengepel WC.

“Tidakkah kau sadar berapa banyak orang yang sedang menganggur yang siap mengambilalih pekerjaanmu ini? Kau lihat tadi, aku menyapu, membersihkan yang kotor, dan kukerjakan dengan tulus. Jadi, tukang bersih-bersih itu tidak hina di depan agama kita,” ujar pejabat itu. Kalam Bahar membelai janggutnya. Dia melirik arit di tangannya, dan katanya tenang tapi dalam, “Na’udzubillah minzalik.” Tak ada lagi penolakan yang lebih mematikan daripada kata-kata itu. Bahar tetap menolak untuk menandatangi kontrak baru dengan jabatan sebagai cleaner.

“Kau sudah tigapuluh tahun di sini. Tak perlu kukatakan lagi bahwa ini adalah keputusan dari markas besar. Ini bukan kehendakku. Jika kau menolak menandatangani kontrak ini, berarti kau memilih berpisah denganku dan saudara-saudaramu,” Omara menahan nafas. Bahar bangkit dan pergi. Walau dia sudah tidak diperkenankan masuk kantor, saban hari Bahar berdiri di seberang jalan. Dari situ dia memandangi pekarangan yang tambah lama semakin sengsara, tak terurus. Omara Otunnu tak kuasa menatap mata bekas bawahannya itu setiap kali dia berpapasan, saat memasuki atau meninggalkan kantor.

Nasib Bahar menjadi buah bibir penduduk kota. Karena itulah, ketika pada suatu hari dia tak muncul di tepi jalan memandangi petak tanah yang dia rawat berpuluh tahun, kecemasan melayang-layang di seluruh kota. Orang-orang mencari ke rumahnya. Tapi, dia entah ke mana. Sampai sekretaris yang mempersilakannya masuk tempo hari, menemukan isyarat di pekarangan. Dia melihat bayangan “”Allah” yang masih tegak di gundukan tanah agak meninggi sejengkal.

Penduduk kota gempar. Ketika gundukan tanah itu dibongkar, orang-orang menemukan Bahar terbaring dengan senyum bertengger di pangkal dagunya. Tubuhnya masih hangat, tetapi tanda-tanda hidup sudah terbang dari situ. Di atas dadanya tersilang tangan kirinya, menggenggam arit kuat-kuat. Dia seperti bersiap-siap hendak bertolak dengan perkakasnya yang sederhana itu menuju dunia baru, di mana ungkapan dengan menggunakan arit itu akan menemukan kebebasan abadi.

Di ruang kantornya, Omara Otunnu sendiri terkulai di meja. Dia menerima wasiat dari Bahar, yang menetapkan uang pensiunnya, yang terkumpul selama tigapuluh tahun, tak boleh diserahkan kepada istrinya. Tetapi, harus disumbangkan kepada organisasi tani yang menggunakan arit sebagai lambang, katanya. Organisasi yang tak pernah ada. Dan kalau muncul pasti sudah ditumpas penguasa.

Omar benar-benar tertindih. Soalnya, ini bukan mandat untuk berunding, di mana ada sikap menerima dan memberi. Ini adalah wasit dari orang yang keteguhan sikapnya telah membikin gila tuannya sendiri. Yang telah menetapkan hidup dan mati di tangannya sendiri.

***

[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *