Minggu, Desember 15, 2019
Hukum

Kapolri Disarankan Tak Akomodasi Manufer Akpol Yang Lebih Muda

Agar Soliditas Tetap Terbangun

212Views

ANTARANEWS.id — Acara simbolis kepemimpinan Polri berpindah dari Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian ke tangan Jenderal Pol. Idham Azis.

Menjadi rangkaian acara juga, pelepasan Tito yang kini telah menjabar sebagai Menteri Dalam Negeri RI.

Serah-Terima Panji-Panji Tribrata Kapolri dan tradisi pengantar tugas di Markas Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok. Acara hari ini (6/11) dilakukan dengan pengamanan ketat.

Tampak hadir Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan beberapa anggota DPR RI. Sekitar 1.500 undangan hadir.

“Jenderal senior banyak yang enggak hadir di acara sertijab itu,” demikian seorang pengamat kepolisian. Ia pun segera mengingatkan, ada apa ini?

Dalam uji kepatutan di Komisi tiga di DPR-RI,  bintang tiga yang hadir hanya satu orang. Biasanya tidak seperti itu.

Bagi seorang calon Kapolri atau Kapolri baru adalah sebuah kebanggaan jika para senior dan jenderal bintang 3 pada hadir dan ikut memberi suport.

Menjadi obrolan di internal Kepolisian, soal soliditas internal Korps Bhayangkara melebar menjadi isu adanya gonjang-ganjing di tubuh Polri.  Ada petinggi di Kepolisian disinyalir melakukan manuver untuk menggoyang posisi tertinggi di Kepolisian itu.

Sedang terjadi pergesekan akibat banyaknya petinggi yang saling incar jabatan. Pasalnya, dengan lompatan adik-adik mengisi jabatan penting, senior yang merasa berprestasi dan “berkeringat”, seakan “dilewati.”

Berebut jabatan, polisi berpangkat bintang satu saat ini jumlahnya ada 200-an. Mereka ingin jadi Kapolda atau Wakapolda atau ingin menjadi bintang dua.

Ada 21 kapolda yang bintang dua. Mereka berebut mendapatkan bintang tiga. Saat ini jumlah bintang tiga, ada 9 orang. Di struktur ada 6.  Di luar struktur ada 3 : kepala BNN, Sestama Lemhanas, dan Kepala BNPT.

Seperti kereta ada lokomotif dan gerbong. 

Ketika Tito Karnavian menjabat Kapolri pada Juli 2016,  ia angkatan 87 yang termasuk junior. Dan saat itu ada sekitar 80% perwira tinggi yang adalah seniornya.

Dan itu, tidak gampang. Bagaimana menjaga perasaan senior, bagaimana menjauhkan benturan, kecemburuan mungkin.

“Jenderal Tito berhasil mengkonsolidasikan, bahkan lawan pun dirangkul,” ujar Gardi Gazarin, jurnalis yang kini sudah masuk dalam kategori pengamat kepolisian.

“Yang menarik untuk diperhatikan dan dicermati di tubuh Polri adalah di awal Desember 2019,” ujar Neta Pane menyebut ada dua Komjen yang pensiun, yakni Kabaharkam dan Wakapolri.

Sebab pergeseran di bulan Desember ini, akan semakin memperjelas siapa yang akan berpeluang menggantikan Idham Azis sebagai Kapolri. Idham Azis akan pensiun di awal Januari 2021.

Neta  memberi catatan,  antara lain,  yang akan menjadi Wakapolri, menggantikan Aridono.

IPW menilai, Wakapolri Idham pasca Aridono, sebaiknya dari Akpol 86, 87 atau 88.

“Agar soliditas tetap terbangun. Jika Idham mengambil dari Akpol yang lebih muda, dikhawatirkan akan muncul kecemburuan yang berpotensi konflik,” Neta mengingatkan.

Masih menurut Neta,  jabatan-jabatan di luar Wakapolri diperkirakan akan diisi jenderal-jenderal muda. Pasalnya,  di 2020 nanti, cukup banyak jenderal senior yang akan pensiun.

Proses mutasi berjalan cepat di tubuh Polri, tapi reformasi Kepolisian hanya berjalan standar dan tidak ada yang signifikan.

Begitu juga reformasi mental di tubuh Polri tetap berat untuk berjalan cepat, apalagi berlari.  Ini karena polri sudah terjebak dalam kultur yang tidak menguntungkan.

Masukan untuk Kapolri baru,  IPW hanya menyarankan Idham cukup melanjutkan apa yang sudah dikonsep atau dikerjakan oleh Tito Karnavian.

Sebab dalam masa dinasnya yang tinggal 14 bulan kurang.  “Tentu akan sulit bagi Idham untuk membuat konsep baru dan mengerjakan konsep tersebut,” tutur Neta S Pane, Ketua Presidium Ind Police Watch.

 

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »