MAKNA APRESIASI SASTRA (1) – – SastraMagz.com

oleh -2 views

[ad_1]

Djoko Saryono *

Menurut hemat saya, secara operasional apresiasi sastra dapat dimaknai sebagai proses (kegiatan) pengindahan, penikmatan, penjiwaan, dan penghayatan karya sastra secara individual dan momentan, subjektif dan eksistensial, rohaniah dan budiah, khusuk dan kafah, dan intensif dan total supaya memperoleh sesuatu daripadanya sehingga tumbuh, berkembang, dan terpiara kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. Pengertian ini setidak-tidaknya mengandung lima pokok pikiran yang perlu dijelaskan lebih lanjut. Pertama, proses (kegiatan) pengindahan, penikmatan, penjiwaan, dan penghayatan karya sastra. Kedua, secara individual dan momentan, subjektif dan eksistensial, khusuk dan kafah, intensif dan total. Ketiga, supaya memperoleh sesuatu daripadanya. Keempat, sehingga tumbuh, berkembang, dan terpiara. Kelima, kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. Walaupun perlu dijelaskan lebih lanjut secara terpisah, perlu disadari bahwa kelima pokok pikiran tersebut sebenarnya merupakan satu ke-bulatan dan kesatuan makna.

Pokok pikiran pertama mengandaikan bahwa karya sastra meru-pakan sebuah dunia-kewacanaan, bukan dunia empirik tempat kita hidup sehari-hari, yang kita perlu mengindahkannya sebagaimana adanya, menikmatinya dengan penuh kesantunan dan kehormatan, menjiwakannya ke dalam diri kita (rohani, kalbu, dan budi kita) sebagaimana harusnya ia ada, dan menghayatkannya ke dalam diri kita sebagaimana harusnya ia hayat. Di sini yang terjadi adalah hubungan dialektis, simbiosis mutualistis, dan tidak semena-mena atau tidak sembarangan. Jika kita “membaca” novel Belenggu karya Armijn Pane, maka kita harus memandang Belenggu sebagai sebuah dunia mandiri, kemudian mengindahkan, menikmati, menjiwakan, dan menghayatkannya ke dalam diri kita sehingga di dalam diri kita benar-benar “terbangun dan berdiri” sebuah dunia Belenggu dan kita bisa mengenali dan menceritakannya kepada orang lain dunia Belenggu itu.

Pokok pikiran kedua mengisyaratkan bahwa dunia-kewacanaan karya sastra yang mandiri “terbangun dan berdiri” dalam diri tiap-tiap orang dan dari waktu ke waktu mungkin berbeda dan memang ada dalam kehidupan kita. Dunia Belenggu, misalnya, yang “terbangun dan berdiri” dalam diri Rindu Rindang Kasih (missal nama) antara kemarin dan hari ini berbeda dan mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari Kelana Angin Gunung (missal nama). Kita pun perlu khusuk dan kafah memperhatikan, menyelidiki, dan mengenalinya sehingga kita bisa menggambarkannya dan mnceritakannya kepada orang lain. Keintensifan dan ketotalan perhatian, penyelidikan, dan pengenalan makin memudahkan kita untuk menggambarkan dan menceritakannya.

Pokok pikiran ketiga berarti bahwa jika melaksanakan pokok pikiran pertama dan kedua, maka kita pasti memperoleh sesuatu betapapun kita sebenarnya tidak mengharapkan sesuatu itu. Sesuatu yang kita peroleh itu bisa bermacam-macam; bisa pengalaman, pengetahuan, penyadaran, dan penghiburan. Jika kita membaca Belenggu sesuai dengan pokok pikiran pertama dan kedua sehingga benar-benar “terbangun dan berdiri” dunia Belenggu, maka selanjutnya kita akan memperoleh sesuatu dari dunia Belenggu itu. Kita bisa memperoleh pengalaman-pengalaman kemanusian yang dilakonkan oleh Tini, Tono, dan Yach (Sukartini, Sukartono, dan Rochayah). Kita pun bisa memperoleh pengetahuan betapa sulitnya membangun hubungan harmonis antara orang yang memiliki tingkat pendidikan, kehidupan budaya, dan pandangan hidup berbeda sebagaimana dilakonkan oleh Tini, Tono, dan Yach. Bahkan kita bisa memperoleh penyadaran bahwa hidup berumah tangga dengan orang yang memiliki perbedaan tidaklah mudah dan bisa menimbulkan malapetaka dan kemelut hidup berkepanjangan.

Pokok pikiran keempat mengisyaratkan bahwa jika kita mengerjakan atau melaksanakan pokok pikiran pertama, kedua, dan ketiga dengan sebaik-baiknya, maka dalam diri kita akan terus tumbuh-meninggi, berkembang-merebak-meluas, dan terpiara-terawat-teperhatikan apa yang terdapat dalam pokok pikiran kelima. Jika kita tidak hanya membaca Belenggu, tetapi juga Layar Terkembang, Sri Sumarah, Burung-burung Manyar, Bumi Manusia, Olenka, Balada Orang-orang Tercinta, dan sebagainya dengan proses sebagaimana terdapat dalam pokok pikiran pertama dan kedua, maka makin subur-merimba-bersih-elok apa yang terkandung dalam pokok pikiran kelima. Mengapa demikian?

Hal itu karena pokok pikiran kelima mengandung pengertian bahwa jika kita mengerjakan atau melaksanakan apa yang terkandung dalam pokok pikiran pertama dan kedua, maka kita memperoleh apa yang terkandung pada pokok pikiran ketiga sehingga terwujud dan terjelmalah pokok pikiran keempat mengenai kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. Hal ini berarti bahwa kita (i) tak pernah meninggalkan karya sastra dari pikiran, perasaan, dan hidup kita, (ii) bisa cepat menangkap dan sigap mengenali isyarat-isyarat karya sastra, (iii) bisa jernih dan dalam melihat isyarat-isyarat karya sastra, (iv) mau terus-menerus setiap waktu menempatkan karya sastra ke dalam sisi hidupnya, dan (v) senantiasa membela-melindungi-menjaga karya sastra agar tetap dalam keadaan baik. Pendeknya, radar-radar yang terdapat dalam diri kita senantiasa terarah, menjaga, dan memantau keberadaan karya sastra.

Jika kita rajin membaca Godlob (Danarto), Royan Revolusi (Ramadhan K.H.), Nenek Moyangku Air Mata (D. Zawawi Imron), Daerah Perbatasan (Subagio Sastrowardoyo), dan Perahu Kertas (Sapardi Djoko Damono) serta Dan Perangpun Usai (Ismail Marahimin) dengan proses sebagaimana terdapat dalam pokok pikiran pertama dan kedua, maka dalam diri kita senantiasa tumbuh, berkembang, dan terpiara kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap Meditasi (Abdul Hadi W.M.), Malu Aku Jadi Orang Indonesia (Taufik Ismail), Kotbah di Atas Bukit (Kuntowijoyo), Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi AG), Para Priyayi (Umar Kayam), Anak Tanah Air (Ajip Rosidi), Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Bako (Darman Munir), Upacara (Korrie Layun Rampan), Keok (Putu Wijaya), Lautan Jilbab (Emha Ainun Najib), dan sebagainya. Pendeknya, radar-radar dalam diri kita (radar budi, nurani, rasa, dan lain-lain) senantiasa terarah dan tertuju pada sastra.

Bersambung….


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *