Orang Tua Wajib Mewaspadai Bahaya Pornografi Bagi Anak

oleh -0 views

[ad_1]

JAKARTA Otak merupakan bagian tubuh yang paling penting bagi manusia. Tepat di dahi, terdapat bagian otak yang paling istimewa, yaitu Pre Frontal Cortex (PFC).

Bagian ini diciptakan agar manusia mampu memilik dan memiliki etika. Bagian ini membentuk kepribadian dan perilaku sosial individu. Akan tetapi PFC ini rentan akan kerusakan. Jika PFC rusak maka kepribadian orang bisa berubah.

Penyebab kerusakannya antara lain penggunaan napza dan pornografi. Pornografi mempengaruhi otak dengan memberi rasa senang melalui zat dopamine, sama seperti sifat candu napza.

Dengan internet, pornografi menjadi jauh lebih mudah didapat. Pertama, mereka akan meng-klik link yang mengarah pada konten pornografi, begitu seterusnya.

Jika tidak ditangani segera, maka seseorang akan semakin kecanduan dengan konten pornografi.

Hal ini mengakibatkan penurunan kemampuan menimbang benar dan salah serta pengambilan keputusan.

Kemudian, pornografi pada anak lebih bersifat merusak karena merusak otak di lima bagian. Namun, pada anak pengaruh pornografi juga dapat dihilangkan selama ada usaha dan dukungan dari orang terdekat.

Di dalam otak kita kalau ada tontonan pornografi kemudian anak-anak melihat. Maka akan hormon dopamine yang dibentuk oleh otak.

Dopamine ini hormon bagus karena membuat orang senang. Namun, seorang anak yang belum matang otaknya menonton pornografi.

“Maka terjadi banjir dopamine yang merusak PFC ini,” ujar Diena Haryana, Pendiri SEJIWA, saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (12/7/2020).

Ia mengatakan, PFC fungsinya penting untuk diri kita sebagai manusia yang beretika. PFC ini mengasah nalar, menentukan baik dan buruk, pengendalian diri, pemecahan masalah, dan perencanaan. Itu semua adalah pekerjaan besar dari PFC.

Pornografi perlu diwaspadai terutama bagi anak-anak. Menurut data Kemenkes tahun 2017 yang dipaparkan oleh Diena, sebanyak 95,1% anak usia SMP & SMA telah terpapar pornografi. Dengan rincian 4,8% teradiksi ringan dan 0,1 % teradiksi berat. Oleh sebab itu, orang tua wajib mewaspadai bahaya pornografi bagi anak.

Nah, bicara mengenai etika dengan 5 hal penting. Bukan hanya etika literasi digital, tetapi juga etika dalam membentuk manusia yang sukses.

Pembicara disini merupakan manusia-manusia yang penuh kesadaran. Manusia yang penuh kesadaran ini bisa fokus di dalam kehidupan, bisa melihat masalah, dan mencari solusi.

Dengan itu, kita juga bisa dipercaya orang karena memiliki integritas, yaitu kesatuan nilai-nilai diri kita, bahwa kita meyakini sesuatu itu benar dan kita menyampaikan dan melakukannya. Antara integritas dan kejujuran ini membuat kita dipercaya orang lain dan mendapat respect dari orang lain,” paparnya.

Kemudian, manusia sukses juga memiliki kebajikan, kepedulian dengan sesama, beradaptasi dengan berbagai hal. Di dalam kebajikan itu, umumnya manusia bertanggung jawab melakukan sesuatu untuk kebaikan dirinya dan orang lain.

Etika-etika ini yang dirusak oleh pornografi, karena ini semuanya banyak yang dikelola oleh PFC. Akibatnya, etika ini tidak muncul di dalam perilaku manusia. Padahal, kita butuh untuk membangun anak menjadi netizen yang unggul dan beretika.

Netizen yang unggul dan beretika merupakan pengguna internet yang mampu menjaga jejag digitalnya agar selalu positif, memilih konten yang bermanfaat, mampu melindungi dirinya secara offline dan online, percaya diri, kreatif, dan terhubung dengan orang-orang di sekitarnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (12/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara, Tommi Pringadi (Founder besoksenin.co), Ocky Sandy (Ketua Lab Aktor Kab. Majalengka), Alda Dina Bangun (Guru SD Cahaya Bangsa – Kota Baru Parahyangan), dan Louiss Regi Aude.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 94 kali dilihat,  94 kali dilihat hari ini

[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *