Pandemi Mendorong Popularitas Data Center

oleh -7 views

[ad_1]

Penulis  :  Isabel Chong, General Manager for Singapore, Indonesia and Malaysia

 COVID-19 telah menciptakan ledakan data center di wilayah ASEAN, terutama di Indonesia. Namun, mampukah kawasan ini mempertahankan pertumbuhan di masa mendatang?

Percepatan digitalisasi secara luas sejak 2020 bukan lagi hal asing bagi banyak orang. Penyebaran COVID-19 di seluruh dunia mengharuskan bisnis untuk memindahkan kegiatan mereka menjadi online dengan cepat sementara orang-orang mencari cara baru untuk bekerja, belajar dan bersantai sejak banyak negara memberlakukan lockdown dan pemerintah menerapkan peraturan jaga jarak sosial.

Kondisi tersebut memunculkan kebiasaan digital yang berperan dalam pertumbuhan aplikasi dan perangkat konektivitas sehingga memungkinkan orang-orang untuk terus bekerja, sekolah, berbelanja dan mendapat hiburan dari rumah.

Di Asia Pasifik, sektor ecommerce, gaming dan video streaming, yang telah menunjukkan kinerja kuat sebelum pandemi, terus tumbuh dengan lebih banyak orang beralih ke layanan digital sebagai dampak dari peraturan jaga jarak sosial.

Di saat yang sama, pandemi juga mendorong pemerintah dan perusahaan untuk mentransformasi dan mengadaptasi pengiriman barang serta layanan mereka, memajukan pemakaian IoT, AI dan teknologi lainnya yang bergantung pada pengumpulan dan analisis data, memicu peningkatan permintaan atas infrastruktur komputasi berkinerja tinggi.

Gelombang permintaan data center selanjutnya

Sebagai komponen utama dalam transformasi, sektor data center memperlihatkan peningkatan tinggi dalam permintaan kapasitas, yang akan terus bertambah selama pandemi masih terus berlangsung.

Di Indonesia, pasar data center diperkirakan tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 6% antara tahun 2020 – 2026 dan meraih lebih dari USD13 miliar dalam waktu lima tahun. Sementara di tingkat global, tujuh dari sepuluh  profesional data center yang disurvei oleh Turner & Townsend memandang sektor data center mampu bertahan saat resesi di 2021, naik dari 50% di tahun sebelumnya. Bahkan banyak (85%) yang setuju bahwa permintaan pembangunan data center di 2021 akan meningkat.

Seperti tahun sebelumnya, data center akan kembali memiliki peran penting namun sebagian besar adalah peran di balik layar untuk membantu pemerintah dan penyedia layanan kesehatan dengan banyaknya negara memasuki fase manajemen pandemi berikutnya.

Kesuksesan kampanye vaksin nasional dan kembali dibukanya sekolah serta kantor akan membutuhkan jumlah data yang sangat besar untuk dikumpulkan secara akurat, tersimpan aman, dan kemudian dianalisa secara real-time.

Didukung oleh data center, teknologi seperti AI, machine learning, IoT dan analisis data akan berperan saat pemerintah terus memprediksi penyebaran coronavirus mengelola pengujian dan mendistribusikan serta memantau pengiriman vaksin.

Dengan peningkatan permintaan akan data center, sangat penting bagi kawasan Asia Pasifik untuk memperhatikan pertumbuhan data center. Faktor penting dalam mewujudkan banyaknya ambisi ekonomi digital adalah kemampuan untuk menyeimbangkan prioritas keberlanjutan dan lingkungan secara efektif selagi mengembangkan tenaga ahli di bidang engineering untuk mendukung pertumbuhan infrastruktur tersebut.

Menyeimbangkan keberlanjutan imperatif di tengah pertumbuhan digitalisasi

Keberlanjutan kini menjadi agenda penting bagi banyak bisnis dan pemerintah, dan banyak yang telah mulai mengambil langkah untuk menguji dampak dari tambisi ekonomi digital mereka saat menetapkan target luas untuk pemakaian energi terbarukan dan emisi karbon.

Tidak terkecuali di Indonesia, dengan rencana pencapaian 23% penggunaan energi terbarukan (EBT) pada 2025 dan 31% pada 2050. Nyatanya, laporan terbaru dari Eaton mengenai pengelolaan daya di Asia Pasifik menunjukkan bahwa bisnis di Indonesia memimpin dalam prioritas perluasan EBT dalam bauran energi mereka, di mana empat dari lima (83%) perusahaan menyebutkan peningkatan penggunaan EBT sebagai prioritas bisnis utama.

Walaupun menjanjikan, minat bisnis di Indonesia terhadap transisi energi menunjukkan bertambahnya kerumitan dalam menyempurnakan kesimbangan antara penerapan transformasi digital dan memajukan tujuan keberlanjutan.

Data center terkenal memiliki kebutuhan energi yang sangat tinggi. Konsumsi energi untuk data center diperkirakan mencapai 3,2% dari total emisi karbon secara global dalam empat tahun, mengkonsumsi sekitar seperlima listrik dunia. Hal tersebut mendesak beberapa pemerintah untuk menerapkan moratorium pada data center baru dan bekerja sama dengan sektor swasta untuk berinvestasi dalam penelitian mengenai teknologi baru yang membantu mengurangi dampak lingkungan untuk mencegah “data centre sprawl” dan melonjaknya biaya energi.

Di tengah-tengah tantangan tersebut, hikmahnya adalah teknologi menjadi bagian dari solusi. Kemajuan dalam teknologi seperti komputasi cloud, perangkat pengelolaan infrastruktur data center, hardware sistem daya tanpa gangguan dan software virtualisai telah memungkinkan data center menjadi lebih hemat energi walaupun mereka tumbuh dalam daya komputasi.

Bahkan, studi tahun 2020 menunjukkan jumlah energi yang dikonsumsi oleh data center di dunia hanya tumbuh 6% antara 2010 dan 2018, sementara daya komputasi keseluruhan tumbuh 550% di periode yang sama. Dengan semakin banyaknya kolaborasi pemerintah dengan bisnis untuk mendorong pengembangan dan pemakaian teknologi, kita akan melihat infrastruktur data yang tidak hanya berbiaya lebih rendah tapi juga lebih bersih, lebih ringkas, dan dengan jejak karbon yang jauh lebih sedikit.

Mengarahkan kekurangan tenaga ahli 

Ketika organisasi berupaya untuk meningkatkan manfaat teknologi ini mereka juga perlu untuk memastikan tim tenaga ahli mereka memiliki pengetahuan dan keahlian cukup untuk memenuhi permintaan kapasitas mendatang sambil mengelola tantangan sumber lainnya yang disebabkan oleh pandemi di beberapa area seperti konstruksi dan penyediaan komponen.

Krisis tenaga ahli teknologi di Asia sudah lama menjadi tantangan bagi bisnis, dan pandemi semakin memperburuk masalah tersebut. Menurut Uptime Institute’s Global Data Center Staffing Forecast, 50% dari pemilik dan operator data center mengatakan saat ini lebih sulit mendapat kandidat berkualitas, naik 38% di tahun 2018.

Dengan permintaan global akan pegawai data center diperkirakan mencapai 2,3 juta staf full time di 2025, pusat kegiatan data center seperti Jakarta akan mendapat kesulitan untuk mempertahankan posisi kuatnya jika gagal membangun tim tenaga ahli yang berkelanjutan.

Lingkungan pengoperasian yang semakin kompleks saat ini menuntut para profesional data center untuk tetap terinformasi tentang berbagai teknologi baru yang muncul. Daftar keahlian penting yang kini mencakup beberapa bidang, mulai dari keamanan secara fisik dan virtual hingga pengelolaan daya, analisis dan AI, membutuhkan tinjauan ulang pada program pelatihan dan desain pekerjaan sebagai permulaan. Hanya jika peran tersebut ditinjau secara layak, organisasi dapat memetakan keahlian yang dibutuhkan tim mereka untuk membangun secara internal dan memutuskan apa keahlian dan fungsi yang dapat dimanfaatkan secara eksternal melalui mitra strategis.

Keberagaman dan inisiatif tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan perwakilan perempuan di sektor data center juga akan semakin meningkat untuk mengisi kesenjangan tenaga ahli. Diperlukan usaha untuk menjembatani perbedaan gender di semua hal, mulai dari perekrutan, pembinaan dan pelatihan hingga membangun budaya kerja keseluruhan yang mengutamakan keberagaman dan menghindari diskriminasi.

Langkah tersebut dapat membantu perjalanan menuju pendekatan komprehensif serta penting untuk menarik dan mempertahankan lebih banyak tenaga perempuan menjadi bagian dari tenaga kerja yang dapat beradaptasi dan tangguh.

Langkah maju – menuju masa depan digital berkelanjutan

Pandemi telah meninggalkan dampak luar biasa terhadap cara kita bekerja dan hidup. Walaupun pemilik infrastruktur data akan terus menghadapi masalah kompleks di berbagai hal, COVID-19 telah memberikan peluang untuk mempertimbangkan secara hati-hati dan meninjau kembali pendekatan yang ada. Seperti halnya peralihan transformasional, memberi perhatian yang sama terhadap masyarakat, proses dan aspek teknologi menjadi kunci bagi kesuksesan banyak organisasi di masa lalu.

Namun, perubahan tidak bisa dihindarkan, terutama dengan meluasnya pemakaian 5G yang mungkin akan menghadirkan serangkaian tantangan baru. Gelombang transformasi teknologi lain yang berpotensi lebih besar segera datang dan menuai manfaat di semua bidang kemasyarakatan. Pemerintah dan bisnis harus tetap berkomitmen untuk berkolaborasi dalam mengelola pertumbuhan infrastruktur data kita secara berkelanjutan.

 6 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini

[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *