Rilis

Soegiharto Santoso (Hoky), Ketum DPP APTIKNAS: “Kami libatkan Seluruh Stakeholder.”

Kegiatan DIGITECH 2018

294Views
Saat ini kita hanya menjadi pangsa pasar untuk pemain-pemain global, kita semua harus berkolaborasi  dan bergandengan tangan untuk mengubah 
 
ANTARANEWS.id —  DIGITECH 2018 adalah kegiatan yang berkaitan dengan Digital Transformation & Industry 4.0 secara menyeluruh untuk mencoba menjadikan kita semua.
 
Kepada pihak Kemenkominfo, Kemenperin, BSSN, Bekraf,  Wantannas, Wantiknas, FTII, Pandi, Bekraf juga kepada pihak TNI dan Polri serta para sponsor yang telah memberikan dukungan.
 
“Terima kasih yang tak terhingga, sehingga terselenggaranya kegiatan ini,” ujar pak Hoky, sebagai tuan dalam kata sambutannya.
 
Pria yang bernama panjang Soegiharto Santoso tak lupa mengucap terima kasih  di semua sektor dan di semua solusinya.  “Termasuk pihak EO nya yaitu PT Antheus Indonesia,” paparnya.
 
Delapan  sesi yang sangat menarik yaitu, Cloud Computing, Blockchain, FinTech dan Smart City, secara paralel di ruang yang berbeda.
 
Kemudian dilanjutkan secara paralel lagi yaitu tentang Bigdata, Cyber Security, Artificial Intelligence dan Internet of Things beserta Industry 4.0. 
 
Pemaparan delapan sesi tersebut masing-masing dengan ruang yang lebih kecil dan dengan jumlah peserta yang lebih sedikit dengan durasi selama 2 jam.
 
Narasumber yang kompeten di bidangnya. “Paling tidak kita yang berada diisni bisa menjadi penggerak dan kami selalu ingin menjadi mitra pemerintah,” tutur pria yang juga sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo).
 
Soegiharto  juga berharap pemerintah memberikan payung hukum yang komprehensif agar kita dalam membangun industri 4.0 ini dapat berjalan dengan lancar dan aman demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.
 
“Karena, jika kita bicara tentang Transformasi digital, maka kita bicara tentang revenue, dalam kesempatan ini saya coba utarakan salah satu contoh saja tentang IoT,” ujarnya.
 
“Sebelum kita bicara teknis, tentu kita membutuhkan konsultan untuk membuat visi baru dengan IoT ini, untuk membantu bisnis prosesnya, kemudian baru kita bicara hasilnya,” tutur sosok ramah ini.
 
Masih menurut pria yang disebut Hoki, untuk mengubah agar menggunakan teknologi, terkadang orang akan berpikir bahwa ini cost/ biaya, namun setelah mengetahui bisnis modelnya dan ternyata justru dapat mengurangi biaya, barulah ingin melakukannya.
 
Hoki mengatakan, namun bisa saja hal itu menjadi terlambat, oleh karena itu kita harus bersama-sama membantu membangun ekosistemnya dan memberikan keyakinan serta memberikan bukti bahwa memanfaatkan teknologi ini ada sesuatu perubahan besar yang kita peroleh.
 
Dengan IoT kita banyak terbantu dalam banyak hal, bisa untuk pengelolaan sampah, bisa untuk pengelolaan cuaca dan lain-lainnya.
 
“Mungkin, para pemimpin belum mengetahuinya, mungkin juga pemimpin telah mengetahuinya, namun belum mengetahui caranya,” ujarnya.
 
Bahwa membangun industi 4.0 bukan kita membangun teknologinya, karena teknologinya sudah ada, namun bagaimana kita membangung mindset, bagaimana mengubah pola pikir para pucuk pimpinan institusi agar bisnis proses dari bawah dapat berjalan dengan menggunakan teknologi.
 
Mindset intinya. Dimana kita dibangun untuk menciptakan aplikasi-aplikasi agar menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri. “Mohon maaf bahwa sudah terbukti bahwa saat ini kita hanya menjadi pangsa pasar untuk pemain-pemain global, seperti Google, Facebook, Twitter , Youtube dan lain-lainnya,” ujar Hoki.
 
Hal ini, masih menurut Hoki,  tentu menjadi tantangan sekaligus peluang yang sangat besar bagi kita dan jangan sampai peluang itu tidak kita raih.
 
“Kita harus membantu mengubah mindset anak-anak muda kita untuk menciptakan aplikasi-aplikasi khas Indonesia, harus kita mindset agar menciptakan solusi-solusi yang bermanfaat,” ujar pria yang selalu konsepnya memberi yang terbaik.
 
Hoki mengatakan, di sisi lain kita juga harus memperhatikan tentang Cyber Security-nya dan ambil juga peluang-peluang di Cloud Computing, Blockchain, FinTech, Smart City, Bigdata, Artificial Intelligence, semua itu diawali dengan mengubah mindset untuk meraih peluang shifting ataupun perubahan pada era industri 4.0 .
 
Kembali tentang IoT, Hoki menyebut contoh, para calon jemaah haji yang  harus menggunakan gelang logam, yang berisikan data-data identitasnya, antara lain, no pasport, kloter, embarkasi, bendera,  berisikan kesehatan serta gelang hotel.
 
“Tujuannya, agar para calon jemaah haji tidak tersesat, coba kita ciptakan IoT dan dipasang GPS, maka akan sangat mudah menemukan calon jemaah haji, mungkin benar biaya akan sedikit lebih mahal, tapi jika dibandingkan dengan manfaatnya tentu sangat layak untuk diciptakan,” tutur Hoki.
 
“Seperti pada awal saya sampaikan bahwa, kita ingin menjadi tuan rumah di industri ini di semua sektor dan di semua solusinya, untuk itu kita semua harus berkolaborasi  dan bergandengan tangan untuk mengubah mindset kita agar tercapai cita-cita tersebut,” demikian kata sambutannya.
 
Di era disruptif ini menjadi era shifting ataupun era perubahan yang harus kita raih bersama, sudah bukan jamannya lagi kita saling menjatuhkan, mari kita ubah mindset secara bersama.
 
“Tentunya, termasuk di bidang regulasi, karena akan banyak sekali peluang-peluan bisnis baru yang besar dan mungkin belum tersentuh dari sisi regulasinya dan jangan sampai karena bisnis modelnya baru dan kita mengalami permasalahan dengan hukum,” Soegiharto memberi penjelasan dalam kata sambutan.
 
 
klik juga: EO Digitech 2018
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »