Rilis

Titik Balik Seorang Manusia Dalam Catatan Pinggir Medsos

Asri Hadi & Pria Kesenggangan

145Views

ANTARANEWS. id —  “Saya sudah sampai di puncak. Sekarang, jalan menurun sepi sendiri menuju jalan pulang,” ujar Asri Hadi, dalam sebuah perenungan diri.  Laiknya pendekar sakti yang hendak masuk ke dalam gua, semalam suntuk ia akan bersemedi.

Asri Hadi mengaku tersentuh, saat diberi hadiah dari seorang sahabat yang justru berbeda keyakinan. Sebagai dimensi ideal-transendental dalam ajaran Islam dari kehidupan sosialnya.  “Saya jadi  rajin membaca Alquran, justru ketika diberi Alquran oleh seorang yang beragama Katholik,” demikian pria yang disebut multiprofesi ini.

“Sekarang ini, kita mengisi hidup lebih berarti, bermanfaat untuk keluarga, sekeliling, kalau bisa untuk bangsa,” ujar Asri Hadi yang belajar untuk selalu bersyukur, karena Allah telah memilihnya, memberikan, kesempatan, rezeki, kesehatan menikmati indahnya ciptaanNya dari bumi yang lain.

Work from home atau biasa disingkat WFH ini menjadikan Asri Hadi semakin tahu diri dan introspeksi.

Bekerja di rumah melalui jaringan internet. Agar tak menimbulkan rasa bosan atau jenuh, ia pun menyingkap koleksi-koleksinya.  Pemimpin Redaksi Indonews.id itu menggunggahnya satu demi satu di akun media sosial Facebook pribadinya.

Sambil menjaga imunitas dan stamina tubuh, dalam kaitan  disiplin menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).  Asri Hadi justru iseng dalam medsosnya.

Seperti sedang menyusun sebuah puzzle. Inilah dunia kreativitas. Koleksi foto-foto dengan narasi dan eksistensinya. Natural dan mengesankan.  Memikat untuk yang melihatnya berkomentar.

Menjadi menarik, terpampang unik.  Saling usik diantara rekan di akun Facebook-nya, tatkala sang sosok ini menampilkan aksentuasi keseharian, pose selfie hingga gaya-gayaan di masa dulu. Tidak jaim, justru kelihatan sudah sadar diri seperti anak sekarang yang senang eksis.

Kekinian. Foto-foto yang ditampilkan di akun FB-nya,  disertai caption, yang mengundang canda. Mereka saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, networking, dan berbagai kegiatan lainnya. Kerajaan tanpa tapal batas.

Penyuka warna biru ini mengunggah foto-fotonya mulai dari foto dengan bule, penari dan pramugari hingga caddy golf yang cantik-cantik.

Tak hanya itu, ia juga punya kenangan dengan para pejabat Orba hingga kini dan pejabat-pejabat penting negeri ini termasuk Presidennya. Semua ada.

Menariknya, pada setiap foto yang diunggahnya, ia sertakan pula kata-kata pemanis yang tentu menambah arti dari sebuah unggahan kenangannya itu.

Kata-kata manisnya yang terkesan lucu dan mengelitik mengundang banyak para sahabat, kenalan sayang bila ketinggalan berkomentar.

Selebihnya, unggahan-unggahan kenanangan itu memberi signal lebih akan siapa sosok seorang Asri Hadi sesungguhnya. Banyak orang kemudian bertanya-tanya sosok yang dekat dengan para orang-orang penting negeri ini dan terlihat kerap berkeliling dunia

Memiliki nama lengkap Drs. Asri Hadi, MA.

Ia dilahirkan di Desa Lintau, Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat, pada 25 Mei 1958.  Nama panggilannya di Jakarta adalah Uyung. Sedangkan oleh orang rumah dipanggil Yung.

Karena dianggap tahu masalah, dirinya kerap dijadikan rekannya untuk diskusi atau tempat bertanya. Bergolongan darah B, anak dari pasangan Sayang Sarif dengan Ramli Hadi ini lahir di desa Lintau Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat.

Keluarga mereka pindah ke Jakarta tahun 1960, dengan kapal laut dari Pelabuhan Teluk Bayur menuju Jakarta dengan perjalanan sekitar 10 hari.  Ketika itu, dalam suasana konflik antara pemerintah pusat dengan sebagian masyarakat Sumatera Barat yang bergabung dalam PRRI.

Merantau ke Jakarta untuk menghindari konflik, Asri Hadi  mengaku sempat tinggal di jl Pete  kawasan Blok A, Kebayoran dimana narkoba jaman itu beredar luas sekitar lingkungan rumah.

Di saat memasuki dunia remaja, tahun 1978-an,  ia pindah rumah ke kawasan jalan Panglima Polim Blok M. Ternyata, lingkungan bergaulnya dengan “Geng Ganja Fly”.

Ia menghabiskan waktunya di masa kecil dengan bersekolah di Taman Kanak-kanak Melati. Berikutnya ia merampungkan masa kecil di Sekolah Dasar Ora Et Labora, Jakarta Selatan.

Selepas SD, Asri Hadi melanjutkan pendidikannya di SMPN 13 Jakarta. Lalu tiga tahun kemudian menempuh pendidikan di SMAN 3, Jakarta.

Berbicara masa muda, Asri Hadi mengakui dirinya punya masa lalu yang seru, dambaan dan incaran anak gaul di masanya.

Ya, suka nongkrong. Stamina dan semangatnya, tak hanya pada sekolah. Ada saja anak-anak pejabat masa itu, yang minta ditemani untuk goyang kanan dan kiri ke diskotik.

Nonton peragaan busana, menikmati  gairah suasana malam hingga lesehan. Kalau mau jujur, katanya, ia adalah refleksi kawula muda idaman wanita.  Menikmati musik atau mengunjungi kafe, termasuk penjelajah kuliner.

Dulu kemana-mana diantar supir atau ikut teman. Tidak bisa nyetir mobil, baru bawa mobil setelah bekerja dan bisa beli bensin dari uangnya sendiri.

Kuliah di Beberapa Kampus

Jangan pilih-pilih tebu dalam bergaul juga dibuktikan. Lulus SMA pada 4 Desember 1976. Selanjutnya pada 1977, ia terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia juga sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung juga Pajajaran Bandung.

Uniknya, pada 1978 Asri Hadi menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Tamat dari FISIP UI tanggal 19 Juli 1984 dengan gelar Drs Sosiologi.

Mulai 24 September 1984, melanjutkan kursus bahasa Inggris di Giles College, 69, Marine Parade dan di Swan School English di 111 Banbury Rood, Oxford, England. Asri Hadi  tinggal di Inggris sampai tahun 1985.

Siapa sangka, ternyata, Asri Hadi merupakan member Metropole Group of Casino dengan nomor id 06943. Serulah, pokoknya.

Tak menjadikan Asri Hadi “katak di bawah tempurung”. Tapi, mahir bersilat dengan budaya global.

Pertama kali kerja sebagai pimpinan After Care Program kegiatan rehabiltasi korban penyalahgunaan narkoba yang disponsori oleh UNDP (Lembaga Internasional).

Banyak negara juga yang sudah dikunjunginya dalam rangka studi banding lokakarya tentang penanggulangan bahaya narkotika. Dari Brunei, Taiwan, Jerman hingga Perancis dan Italia.

Pada 1992 mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia untuk melanjutkan pendidikan S2 di Monash University, Clayton Victoria, Australia dan mendapat gelar Master Of Arts pada 5 Oktober 1994.

“Saya pernah keliling dunia bersama sepupu, keliling dunia selama 40 hari, hadiah dari orang tua karena mendapat beasiswa, lulus ujian yang diselenggarakan pemerintah Australia,” ujar pria yang pada 16 Agustus 1994 diangkat menjadi Sekretariat Jurusan Tata Praja.

Pada 25 Desember 1995, ia menduduki Sekretaris Jurusan Pemerintahan di IIP Depdagri.  Pemegang paspor dinas nomor 636751 tak hanya keliling dunia ke Singapura, Thailand, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan dan Amerika Serikat serta Inggris. Ia  dua kali umroh ke Arab Saudi, di tahun 1997 dan 1999.

Perjalanan Pengabdian Asri Hadi

Penerima Penghargaan Satyalacana Dwidya Sistha ini memulai karir sebagai Dosen IIP-IPDN Kementerian Dalam Negeri sejak tahun 1986 hingga sekarang.

Pada tahun 1986, Asri Hadi ditugaskan untuk ikut sebagai anggota delegasi RI hadir di acara Konferensi Internasional Non-Goverment Organization (IFNGO) di Sidney berdasarkan surat perintah dari Bakolak inpres VI tahun 1971.

Konferensi Internasional NGO adalah forum pertemuan dari berbagai negara yang membahas tentang strategi apa yang harus dilakukan untuk penanggulangan penyalahgunaan Narkoba.

Berdasarkan surat perintah yang sama yakni Bakolak inpres VI tahun 1971, Asri Hadi juga ditugaskan untuk menjadi anggota delegasi RI dalam acara IFNGO di Hongkong tahun 1987, di Singapura tahun 1990, di Brunei tahun 1995, dan di Malaysia tahun 1996.

Selain itu, Asri Hadi juga tercatat sebagai lulusan Facilitators Program “Bridge Project” yang diselenggarakan oleh Australian Electoral Commision pada bulan April tahun 2003.

Asri Hadi sejak lulus “Bridge Project” ditugaskan oleh Komisi Pemilihan Umum KPU untuk melatih petugas KPU Daerah hingga tingkat paling bawah yaitu KPPS di seluruh wilayah di Indonesia.

Pada saat yang sama, ia juga aktif sebagai relawan dalam penanggulangan bahaya narkotika di Forum Organisasi Masyarakat Anti Narkoba (FOKAN) mitra kerja Badan Narkotika Nasional (BNN).

Pada tahun 2006, Asri Hadi menjabat sebagai Manager Advertising Majalah Health News. Media againts drug yang direkomendasi oleh Badan Dunia UNDOC sebuah Kantor PBB urusan obat-obatan dan kejahatan atau yang dalam Bahasa Inggris disebut United Nations Office on Drugs and Crime.

Pada tahun 2009, pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan ke-64 RI, berdasarkan surat nomor B-156/PANPEL/08/2009 Asri Hadi juga berperan mendistribusikan Majalah HealthNews kepada Undangan yang hadir di Istana Kepresidenan.

Sosok yang kerap mendampingi Sri Mulyani ketika masih menjadi pengamat ekonomi ini juga tercatat sebagai Anggota redaksi Jurnal Ilmu Pemerintahan dan anggota redaksi Widyapraja IPDN

Hingga saat ini, Asri Hadi menjadi anggota dewan pengurus Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) dan anggota dewan pengurus organisasi BERSAMA (Wadah berhimpun tingkat nasional LSM yang aktif di bidang penanggulangan Narkotika).

Pada tahun 2014, Asri Hadi aktif membantu anggota Dewan Pertimbangan Presiden Prof Ryaas Rasyid sebagai anggota tim Kajian Tata Kelola Penyelenggaraan Pemerintahan di Wilayah Perbatasan sesuai surat perintah nomor 18/set.WANTIMPRES/05/2014

Sejak tahun 2015, Asri Hadi menjadi Ketua Umum Forum Intelektual Studi Untuk Indonesia (FIS UI) yang seluruh anggotanya adalah alumni FISIP UI.

Selain itu, Asri Hadi juga tercatat sebagai Dosen Tamu di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut atau yang disingkat SESKO AL berdasarkan surat permohonan mengajar dari Sekolah Staf dan Komando TNI nomer B/1304/X/1994/SESKOAL untuk mata pelajaran Sistem Keamanan Swakarsa dengan LKMD.

Ia jadi senang mengisi hari-harinya, untuk hal-hal yang bermanfaat bagi bidangnya, juga masyarakat luas. Penerima penghargaan Satya Lencana Karya Satya berdasar Kepres  nomor 31058/4-6/200 ini lumayan baik, gaji bagus, kariernya oke-oke saja. Bahkan, pendapatan yang lain di luar bidangnya lumayan.

Berteman Dengan Jenderal & Ibu Pejabat

 “Saat dewasa tinggal jalan Brawjaya, sekitar tahun 1981. Baru saya aktif di BERSAMA, kampanye pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba,” ujar Asri Hadi menyebut beberapa jenderal yang aktif kala itu.

Menjadi socialpreneur, kampanye BERSAMA cegah narkoba dengan Brigjen Pol (p) Alm Soekardjo Subandi, Letjend Pol (p) Alm Sukahar serta Mayjend Pol (p) Putera Astaman. Bergandeng dengan Irjend pol Hadiman juga Jendera Pol (p) Roesdihardjo dan Komjen pol (p) Ahwil Lutan.

Mantan Ketua Hotline Service Bersama (organisasi yang didirikan oleh ibu Benny Moerdani) dengan ibu Anne Mambu — istri Des Alwi. Asri Hadi hingga kini telah aktif 38 tahun di organisasi BERSAMA di bawah Koordinasi Bakolak Inpres 6/1971.

Jaman itu,  penanganan masalah narkoba ditangani Bakolak Inpres, sebelum ada Badan Narkotika Nasional (BNN) seperti sekarang. Wajar, jika ia akrab dengan para petinggi BAKIN.

Berteman dengan jenderal juga akrab dengan ibu Benny Moerdani di jaman itu. Pria yang pernah menjadi staf khususnya ibu Suparjo Rustam (istri Mendagri jaman itu),  Asri Hadi tetap saja orang yang asyik.

Tak merasa dekat dengan pejabat. Justru, ia juga kerap bergaul dengan kegiatan berbagai kelompok. Nuansa ramah dan memikat banyak orang.  Sebagai anak orang berada, pakaiannya tak harus bermerek, tapi keren.  Mantab. Percaya diri.

Pada 1 Maret 1986, menjadi Pegawai Negeri Sipil departemen Dalam Negeri dengan NIP 010204367. Dunia baru dengan semangat baru, ia menjadi birokrat, jauh panggang dari api.

Di tahun 1987 diangkat dengan golongan III/b. Menjadi dosen tetap Sosiologi Politik dengan SK 46 nomor 1988. Di 1989, mengikuti pendidikan internasional training metodologi Course di National Institut of Public Administration (Intan) selama tiga bulan di Kuala Lumpur.

Pernah  menjadi Manager Personalia di PT Rekso Abadi Grup MRA tahun 1996-1998. Kemudian menjadi advertising manager Majalah HealthNews, tahun 2006, media againts drug yang direkomendasi oleh Badan Dunia UNDOC.  Kantor PBB urusan obat-obatan dan kejahatan atau yang dalam Bahasa Inggris disebut United Nations Office on Drugs and Crime.

Hidup bagi Asri Hadi mengikuti empat petuah sang ayah.

Pertama, jangan malu untuk meminta maaf, jika memang kita salah. Yang kedua, beri maaf tanpa syarat. Walau orang itu bersalah pada kita. Ketiga, jangan berpikir negatif kepada orang. Kemudian, hidup kita harus selalu bermanfaat bagi seseorang atau sekeliling kita.

Relatif ceria dan optimis. Kepiawaian dari pria yang sejak  belia  sudah membaca buku-buku tokoh, cerita silat hingga buku ilmiah. Tak hanya dibaca, namun dikoleksinya. Sederet pengalaman menjadi moderator pada pelbagai lembaga sejak 2000.

Ia memilih jalan berbeda, dengan pegawai negeri lain. Menikah dengan Marie Laurentia Loedin pada 24 Oktober 1999 di hari Minggu jam 09.30 di Aula Masjid Darul Adzaar, Lebak Bulus.

Asri Hadi menutup buku, cerita dan potret “buram” masa-masa mudanya yang indah. Yang kemerlap dan meletup, termasuk yang konyol.

“Tahun ini, gue ulang tahun yang ke 62 tahun di tanggal 25 Mei,”  pria yang naik haji di 2000 lalu. Suami dari istri dua orang anak (Arini dan Dhita) ini menempati rumah dinas dosen Kampus di Institut Ilmu Pemerintahan Depdagri, Jl Ampera Raya sejak 2002.

Anggota redaksi Jurnal Ilmu Pemerintahan dan anggota redaksi Widyapraja IPDN ini, menerima tantangan untuk menjadi Penanggung Jawab dan Pemimpin Redaksi media yang disebut “corong” Jokowi.

Pengurus Pusat Porturin rajin liputan, dari seminar, sarasehan, hingga peserta Forum Diskusi dan Workshop. Ia tak sengaja menjadi punya kesenggangan, mengoleksi topi. Karena, setiap ia menjadi dosen atau peserta diskusi panel, ia kerap mendapat topi.

Hanya memang, untuk topi ini jumlahnya silih berganti. Jika ada yang meminta, ia kadang memberikan. Kecuali, topi dengan sejarah yang dianggap khusus. Saat ini ada 34 buah topi bernilai sejarah dan 157 pulpen serta 27 ID card, multi profesi. Ada juga ragam seragam.

Pengalaman di Istana Kepresidenan Yogyakarta, dengan “geng Solo” hingga anak muridnya ketika mengajar di Sesko. Bersalaman dengan Presiden Soeharto dan Ibu Tien, Megawati, termasuk mengawal Sri Mulyani ketika masih jadi seorang pengamat ekonomi. Pose dengan keluarga Jokowi

Hidup Asri Hadi memang penuh warna. Bernyanyi dengan pengamen di Rembrandtptlein Amsterdam. Anggota Korpri ini tak terpaku sebagai ASN di Kemendagri yang kaku.

Dikenal sebagai pribadi yang “open minded” sering bertemu dengan orang-orang baru yang sangat luar biasa menginspirasi.

Kini, Asri Hadi sibuk juga menjadi bendahara dari Asosiasi Media Digital Indonesia dan Forum Pimpinan media Digital Indonesia.

Pose bersama teman-temannya yang kini menjadi duta besar di beberapa Negara. Kemudian, ia baru saja, keliling bersama keluarga besar dan cucu, ke tembok Cina serta Jepang.  Semua di upload ke FB. Jadi, ya jejak digital Asri Hadi terkuak, deh.

#S.S Budi Raharjo

redaksi antara
the authorredaksi antara

Tinggalkan Balasan

Translate »